SULTRATOP.COM, KENDARI — Selama masa libur panjang sekolah, harga telur ayam dan daging ayam potong di Pasar Mandonga, Kota Kendari, mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini terjadi di tengah melemahnya aktivitas jual beli di pasar tradisional, yang diduga berkaitan dengan berhentinya program makan bergizi gratis (MBG) selama masa liburan ini.
Berdasarkan pantauan Sultratop.com di lokasi pada Kamis (2/7/2026), sejumlah kios pedagang tampak sepi. Aktivitas transaksi berkurang seiring menurunnya permintaan dari pembeli rutin, termasuk mitra SPPG yang selama ini menjadi salah satu penyerap utama komoditas telur dan ayam.
Salah seorang pedagang telur ayam, Sukma (29), mengungkapkan bahwa penurunan harga telur mulai terasa sejak momentum libur sekolah dimulai. Saat ini, harga telur ayam berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp53.000 per rak.
“Waktu belum libur sekolah, dapur SPPG yang jadi langganan kami biasanya membeli di harga Rp53.000 sampai Rp55.000 untuk satu rak telur isi 30 butir,” ungkap Sukma kepada Sultratop.com.
Ia menambahkan, berkurangnya permintaan dari mitra SPPG turut memengaruhi penjualan berbagai jenis telur seperti telur ayam ras, telur puyuh, hingga telur asin.
“Biasanya mereka bisa ambil 20 sampai 40 rak per hari, sekarang sudah tidak ada order (pesan). Sejauh ini stok penjualan kami masih banyak. Pelanggan umum tetap ada yang datang belanja, meskipun suasananya kurang ramai,” keluhnya.
Kondisi serupa juga dirasakan pedagang ayam potong, Muhammad Ikbar Hidayat (32). Ia menyebut harga ayam potong kini turun menjadi sekitar Rp20.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp30.000 saat program MBG masih berjalan aktif.
“Kalau anak sekolah libur, harga ikut turun. Sekarang Rp20.000 per kilo, sebelumnya bisa Rp30.000,” kata Ikbar.
Menurutnya, dalam kondisi normal, permintaan dari mitra SPPG bisa mencapai sekitar 1 ton ayam potong per hari. Ia berharap harga kembali stabil saat aktivitas sekolah dan program kembali berjalan.
Sementara itu, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara, komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras memang tercatat mengalami penurunan harga pada Juni 2026 dan menjadi salah satu penahan laju inflasi daerah.
BPS mencatat, secara bulanan kedua komoditas tersebut memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,02 persen. Secara tahunan, telur ayam ras juga menyumbang andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Meski demikian, BPS juga menyebutkan bahwa inflasi tahunan Sulawesi Tenggara masih berada di angka 4,68 persen yang dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas lain seperti emas perhiasan dan tarif angkutan udara. (A/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati


















