SULTRATOP.COM, KOLAKA UTARA – Ratusan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) kini menganggur. Kondisi ini dipicu oleh penghentian sementara distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang masa libur sekolah.
Selama operasional dapur berhenti, para relawan otomatis tidak mendapatkan upah dan hanya bisa berdiam diri di rumah. Penghentian produksi ini merujuk pada Surat Edaran Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 12, yang menginstruksikan seluruh SPPG untuk menghentikan sementara aktivitas produksi dan penyaluran MBG.
Nisa (21), salah seorang relawan SPPG Pakue, membenarkan situasi tersebut. Sudah sepekan terakhir ia tidak lagi beraktivitas di dapur umum.
Bagi Nisa, pekerjaan ini sangat berarti. Menjadi relawan SPPG adalah momen pertama kalinya ia bisa menghasilkan uang sendiri untuk menopang perekonomian orang tuanya.
“Iya betul, sudah seminggu kami tidak ke dapur. Informasinya (libur) selama libur sekolah ini saja,” ujar Nisa, Sabtu (27/6/2026).
Nisa mengungkapkan bahwa kebijakan ini berdampak langsung pada dapur rumah tangga para relawan. Banyak rekan sejawatnya yang mulai mengeluh karena harus kehilangan satu-satunya sumber pendapatan saat ini.
Di tengah situasi pelik ini, berembus pula rumor di media sosial bahwa program MBG akan dihentikan permanen. Isu tersebut tak pelak membuat para relawan makin cemas.
“Teman-teman relawan banyak yang sedih karena menggantungkan hidup dari sana. Pemerintah harus melihat nasib kami,” harap Nisa.
Keluhan serupa datang dari Hasriani (27). Ia mengakui menjadi relawan SPPG Pakue sangat membantu dapur keluarganya tetap mengepul. Kini, akibat kebijakan penutupan sementara, ia terpaksa memutar otak dan mencari pekerjaan serabutan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hasriani menyayangkan penutupan total ini. Menurutnya, meski sekolah sedang libur, masih ada sasaran program MBG dari kelompok B3, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, yang idealnya tetap menerima pasokan gizi. Namun nyatanya, aktivitas dapur benar-benar mati total.
“Kami yang merasakan langsung dampaknya karena penghasilan tiba-tiba hilang. Saya sangat berharap program ini terus berlanjut. Kalau dihentikan, bagaimana nasib kami?” tutur Hasriani. (B/ST)
Laporan: Rusman Edogawa

















