SULTRATOP.COM, KENDARI – Kota Baubau menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada April 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Baubau tercatat mencapai 4,08 persen, melampaui wilayah lain di provinsi tersebut.
Kepala BPS Sultra, Susanto mengungkapkan bahwa secara umum inflasi Sultra pada April 2026 berada di angka 2,98 persen (y-on-y). Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) tercatat sebesar 0,50 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 2,28 persen.
“Baubau menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Konawe sebesar 1,61 persen (y-on-y),” ujar Susanto dalam keterangan resminya.
Adapun komoditas penyumbang inflasi Kota Baubau yaitu angkutan udara dengan andil 0,96 persen, emas perhiasan 0,43 persen dan tomat 0,32 persen.
Selain Baubau, beberapa daerah lain juga mengalami inflasi dengan angka yang bervariasi. Kota Kendari mencatat inflasi y-on-y sebesar 2,83 persen, Kabupaten Kolaka 3,80 persen, dan Konawe 1,61 persen.
Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi secara tahunan didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 9,42 persen dengan andil 0,77 persen.
Disusul kelompok transportasi dengan inflasi 4,01 persen serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,14 persen.
Sementara itu, secara bulanan, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,35 persen. Komoditas seperti angkutan udara, angkutan laut, mobil, solar, serta pelumas atau oli mesin menjadi faktor dominan pendorong kenaikan harga.
Adapun secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi dengan andil 1,05 persen. Komoditas utama penyumbangnya antara lain ikan cakalang, ikan sisik, beras, rokok kretek mesin (SKM), tomat, dan daging ayam ras.
Susanto menegaskan bahwa dinamika harga komoditas transportasi dan bahan pangan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi di Sultra. Ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian harga dan distribusi barang untuk menjaga stabilitas inflasi di daerah.
“Koordinasi antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar inflasi tetap terkendali,” tuturnya. (B/ST)
Kontributor: Ismu Samadhani



















