SULTRATOP.COM, KENDARI – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengungkapkan komoditas pangan masih menjadi faktor utama penyumbang inflasi, terutama dalam tiga bulan pertama tahun 2026.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sultra, Edwin Permadi dalam rapat koordinasi pangan 2026 bertema “Pangan Sejahtera, Inflasi Harga Terkendali” yang digelar di Aula Wakatobi, Rabu (15/4/2026).
Menurut Edwin, lonjakan harga beras dan ikan menjadi pemicu dominan inflasi di wilayah Sultra, meskipun memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah.
“Inflasi kita dalam beberapa bulan terakhir banyak dipengaruhi oleh padi dan ikan. Ini menjadi perhatian, karena Sultra punya laut yang luas dan lahan pertanian,” ungkapnya.
Ia menilai tingginya harga tersebut mengindikasikan masih adanya kendala dalam sistem distribusi dan pengelolaan hasil pangan, termasuk minimnya fasilitas pendukung seperti penyimpanan dan pengolahan.
Berdasarkan data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS, inflasi tahunan Sultra mencapai 3,37 persen pada Maret 2026. Kenaikan itu tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik dari 107,91 pada Maret 2025 menjadi 111,55 pada periode yang sama tahun ini.
Inflasi Maret 2026 banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan, tarif listrik, ikan segar seperti cakalang dan kembung, serta komoditas pangan utama seperti beras, telur ayam ras, dan daging ayam.
Untuk inflasi bulanan, komoditas seperti bahan bakar rumah tangga, beras, ikan cakalang, tomat, hingga sayuran seperti sawi dan bayam menjadi penyumbang utama.
Kondisi itu menunjukan bahwa sektor pangan masih menjadi faktor penentu dalam pergerakan inflasi di daerah.
BI Sultra pun mendorong penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan untuk memperbaiki rantai pasok, meningkatkan produksi, serta menjaga ketersediaan bahan pangan guna menekan gejolak harga di pasaran. (*/St)
Kontributor: Ismu Samadhani



















