SULTRATOP.COM, KENDARI – Euforia perayaan Idulfitri 1447 Hijriah (2026) belum sepenuhnya reda, tapi ancaman penyakit menular mulai mengintai. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengingatkan masyarakat agar tidak abai terhadap risiko campak, terutama pada bayi yang belum mendapatkan imunisasi dan rentan mengalami komplikasi serius pasca meningkatnya mobilitas selama lebaran.
Kepala Dinkes Sultra, dr. Andi Edy Surahmat mengatakan, hingga kini kondisi di daerah masih relatif terkendali. Kasus campak yang terdeteksi baru berada pada angka sangat rendah dan belum menunjukkan pola penyebaran yang mengkhawatirkan.
“Secara jumlah memang masih minim, namun kita tidak boleh abai. Penularan campak sangat cepat, apalagi setelah banyaknya interaksi saat lebaran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ancaman terbesar justru datang dari masa inkubasi virus yang berlangsung sekitar dua pekan. Pada fase itu, seseorang yang terinfeksi belum menunjukkan gejala, tetapi sudah dapat menularkan virus ke orang lain melalui udara. Kondisi itu membuat potensi penyebaran menjadi sulit terdeteksi sejak dini.
Menghadapi risiko tersebut, Dinkes Sultra telah menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan di kabupaten dan kota untuk meningkatkan kewaspadaan. Sistem surveilans diperketat, termasuk upaya pelacakan terhadap individu yang memiliki kontak erat dengan pasien.
Tenaga kesehatan juga diminta lebih aktif melakukan identifikasi dini, terutama pada lingkungan keluarga pasien. Langkah ini dinilai krusial untuk memutus rantai penularan sebelum meluas.
Di sisi lain, masyarakat turut diminta berperan dalam pencegahan. Penggunaan masker di tempat ramai dan pembatasan interaksi sosial menjadi langkah sederhana tapi efektif, khususnya jika terdapat anggota keluarga yang menunjukkan gejala awal seperti demam tinggi dan munculnya ruam kemerahan.
Lebih jauh, Andi Edy mengingatkan bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan. Di balik gejala awalnya, tersimpan risiko komplikasi serius yang bisa berujung fatal, terutama pada bayi yang belum mendapatkan imunisasi.
“Pada bayi, campak bisa memicu diare berat hingga dehidrasi akut. Ini yang sering berujung fatal dan kadang disalahartikan sebagai penyakit lain,” jelasnya.
Karena itu, imunisasi campak dinilai sebagai perlindungan paling efektif. Orang tua diimbau memastikan anak mendapatkan vaksin sesuai jadwal, yakni mulai usia sembilan bulan.
Selain pencegahan medis, kesadaran untuk melakukan isolasi mandiri juga menjadi sorotan. Masyarakat diminta menunda pertemuan keluarga jika ada anggota yang diduga terinfeksi, sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam melindungi kelompok rentan.
Saat ini, Dinkes Sultra masih memantau perkembangan situasi dalam rentang 14 hari setelah lebaran, periode krusial yang dinilai dapat menentukan ada tidaknya lonjakan kasus. (A/ST)
Kontributor: Ismu Samadhan


















