26 May 2024
Indeks

Topografi Pegunungan, Alasan Nepal Berbahaya untuk Penerbangan

  • Bagikan
Cuaca buruk, jarak pandang rendah, dan topografi pegunungan berkontribusi pada reputasi Nepal sebagai tempat yang berbahaya untuk penerbangan. (Foto: Pixabay)

SULTRATOP.COM – Jatuhnya
pesawat Yeti Airlines yang membawa 68 orang penumpang dan empat kru pada Minggu, 15 Januari 2023 menambah daftar panjang kecelakaan pesawat di Nepal. Lantas apa alasan Nepal berbahaya untuk penerbangan?

Kecelakaan pesawat yang menewaskan 72 orang di dalamnya itu menjadi kecelakaan pesawat terburuk di negara Himalaya dalam 30 tahun. Menurut data dari Aviation Safety Network, itu juga merupakan kecelakaan penerbangan terburuk ketiga dalam sejarah Nepal.

Iklan Astra Honda Sultratop

Nepal memang merupakan salah satu tempat berbahaya di dunia untuk penerbangan.

Para ahli mengatakan, kondisi seperti cuaca buruk, jarak pandang rendah, dan topografi pegunungan menjadi alasan Nepal ‌berbahaya untuk penerbangan.

Pola cuaca yang berubah-ubah bukan satu-satunya alasan Nepal berbahaya untuk penerbangan. Menurut laporan keselamatan 2019 dari Otoritas Penerbangan Sipil Nepal, topografi tak bersahabat negara itu juga merupakan bagian dari tantangan besar pilot.

Nepal, negara berpenduduk 29 juta orang adalah rumah bagi delapan dari 14 gunung tertinggi di dunia, termasuk Everest. Bentang alam berbatu yang indah menjadikan Nepal tujuan wisata populer bagi para trekker.

Tapi medan ini bisa sulit dinavigasi dari udara, terutama saat cuaca buruk, dan keadaan diperburuk oleh kebutuhan menggunakan pesawat kecil untuk mengakses bagian negara yang lebih terpencil dan bergunung-gunung.

Menurut Otoritas Penerbangan Sipil, pesawat dengan 19 kursi atau kurang lebih cenderung mengalami kecelakaan karena tantangan ini.

Ibu kota Kathmandu adalah pusat transit utama Nepal, dari mana banyak penerbangan kecil ini berangkat.

Bandara di Kota Lukla, di timur laut Nepal merupakan bandara paling berbahaya di dunia. Sebagai pintu gerbang ke Everest, landasan pacu bandara ini terletak di sisi tebing di antara gunung-gunung, di ujungnya langsung jatuh ke dalam jurang.

Selain itu, kurangnya investasi pada pesawat tua hanya akan menambah risiko terbang.

Pada 2015, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, memprioritaskan membantu Nepal melalui Kemitraan Bantuan Implementasi Keselamatan Penerbangannya. Dua tahun kemudian, ICAO dan Nepal mengumumkan kemitraan untuk mengatasi masalah keamanan.

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir Nepal telah meningkatkan standar keselamatannya, tetapi tantangan masih tetap ada.

Pada 2016, penerbangan Tara Air jatuh saat terbang di rute yang sama dengan pesawat yang hilang pada hari Minggu. Insiden itu melibatkan pesawat Twin Otter yang terbang dalam kondisi cerah.

Pada awal 2018, penerbangan US-Bangla Airlines dari Dhaka ke Kathmandu jatuh saat mendarat dan terbakar, menewaskan 51 dari 71 orang di dalamnya.

Dan pada Mei 2022, penerbangan Tara Air dengan 22 orang di dalamnya menabrak gunung di ketinggian sekitar 14.500 kaki. (—)

Sumber: Koamnewsnow



google news sultratop.com
  • Bagikan