SULTRATOP.COM, KENDARI – Seorang mahasiswi Universitas Haluoleo (UHO) Kendari menjadi sasaran komentar bernuansa seksual di media sosial usai terlibat dalam aksi yang menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Aksi yang semula bertujuan menyuarakan keadilan justru berujung pada serangan personal di ruang digital.
Mahasiswi tersebut, Nesya Marsanita yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO). Ia mendapat tindakan pelecehan seksual melalui media sosial usai melakukan aksi damai yang menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus yang diduga oleh oknum TNI.
Perundungan dan pelecehan ini bermula setelah foto dokumentasi kegiatan aksi bersama tiga orang rekannya viral di berbagai platform digital dan mengundang reaksi negatif.
Meski mendapat banyak dukungan, ia juga menjadi sasaran akun-akun anonim yang melontarkan komentar bernada menyerang ranah personal.
“Awalnya postingan saya hanya untuk dokumentasi, namun keesokan harinya viral. Banyak komentar negatif yang muncul, mulai dari menyuruh saya mengaji hingga tuduhan tidak berdasar seperti open BO,” ujar Nesya Marsanita, Sabtu (11/4/2026).
Ia menilai adanya keterkaitan antara gender dan respons negatif publik terhadap isu politik. Menurutnya, kemunculan perempuan dalam aksi massa masih kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian kelompok.
“Perempuan itu jarang muncul pada kegiatan-kegiatan seperti ini. Yang orang-orang tahu adalah perempuan itu tugasnya mending belajar saja karena dianggap bukan ranahnya perempuan,” ungkapnya.
Keterlibatan perempuan dalam menyuarakan isu politik, lanjutnya, justru sering memicu reaksi keras dari pihak-pihak yang berseberangan.
“Bagi mereka yang merasa terganggu dengan postingan saya atau buzzer tidak sepakat dengan apa yang saya sampaikan, sebaiknya berdiskusi dengan bijak tanpa harus memberikan makian,” ucapnya.
Dampak dari tindakan pelecehan digital ini juga meluas hingga ke lingkungan keluarga. Ia mengungkapkan bahwa ibunya sempat panik dan terus memantau kondisinya melalui telepon karena khawatir akan adanya teror fisik.
Untuk menghindari reaksi berlebihan, ia memastikan bahwa saat ini dirinya dalam kondisi aman di bawah perlindungan aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas.
Ia berencana melaporkan kasus pelecehan tersebut ke pihak berwenang maupun pihak kampus, sembari terus memantau situasi di media sosial.
Ia juga mengajak seluruh mahasiswi untuk tetap teguh dan tidak gentar dalam menyuarakan keadilan meski menghadapi tekanan psikologis di ruang siber.
“Jangan takut untuk menyuarakan suara kita. Jangan menakut-nakuti yang berani, kita harus tuntaskan apa yang sudah dimulai sampai akhir,” pungkasnya. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno













