SULTRATOP.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra), selama musim kemarau Agustus 2026 telah menghanguskan 205,25 hektare lahan.
Dampaknya mulai dirasakan warga. Sebanyak 123 warga Kecamatan Lalolae mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla.
Dokter Umum UPTD Puskesmas Lalolae, dr. Febrianus, mengatakan keluhan warga antara lain batuk, demam, mata perih, sakit tenggorokan hingga sesak napas.
“Ini kemungkinan disebabkan asap dari karhutla. Ini kami alami sudah dari awal Agustus,” kata Febrianus, Jumat (11/9/2026).
Kasus tersebut ditangani sesuai keluhan pasien dengan pemberian obat batuk, obat demam dan vitamin.
Kepala UPTD Puskesmas Lalolae, Asma Ristasari, mengatakan kebakaran lahan gambut di wilayah tersebut telah berlangsung sejak awal Agustus hingga saat ini.
Untuk mengurangi paparan asap, pihaknya telah membagikan 3.000 masker kepada pelajar dan masyarakat di sekolah, jalan, serta pasar.
Sementara itu, BPBD Koltim mencatat lahan terbakar tersebar di lima kecamatan. Di Kecamatan Tirawuta Desa Poniponiki 5 hektare. Kecamatan Ladongi 77 hektare tersebar di Kelurahan Welala 40 hektare, Desa Pombeyoha 28 hektare, serta Kelurahan Raraa hingga Desa Wande 9 hektare.
Kemudian Kecamatan Lalolae 106 hektare tersebar di Desa Talodo 5 hektare, Desa Wesalo 82 hektare, dan Desa Keisio 19 hektare. Kecamatan Tinondo di Kelurahan Tinengi 2,25 hektare dan Kecamatan Lambandia di Desa Lalolera 10 hektare.
Kepala BPBD Koltim Dewa Made Ratmawan mengatakan pemadaman terkendala cuaca terik, angin kencang dan minimnya sumber air, terutama di Desa Keisio, Lalolae.
Petugas bahkan harus menggali sumber air secara manual menggunakan tangan dan cangkul.
“Personel kami beberapa hari sebelumnya melakukan penggalian sumber-sumber air secara manual. Itu pun sumber airnya sangat terbatas,” ujarnya.
BPBD mengerahkan sekitar 26 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama Manggala Agni, TNI dan Polri untuk menangani kebakaran.
Made memperkirakan penanganan masih membutuhkan waktu hingga sekitar satu pekan, tergantung kondisi cuaca.
“Kami agak pesimis kalau ini bisa diselesaikan dalam satu sampai dua hari. Ini kemungkinan membutuhkan waktu berhari-hari, sekitar satu minggu ke depan tetap akan dilakukan penanganan,” jelasnya.
Ia mengimbau warga, khususnya di Lalolae, tidak membakar lahan untuk membuka atau membersihkan area pertanian selama musim kemarau.
“Kalau sudah terjadi karhutla akan sangat susah dipadamkan,” ucapnya. (A/ST)
Laporan: M11
Editor Muhamad Taslim Dalma











