SULTRATOP.COM, KENDARI – Harga sejumlah bahan pangan di Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai melandai pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama deflasi secara bulanan (month to month/m-to-m) bulan ini.
Komoditas tersebut antara lain tomat, ikan layang atau ikan benggol, kangkung, bahan bakar rumah tangga, ikan teri, ikan cakalang atau ikan sisik, bawang merah, ikan selar atau ikan tude, ikan gabus, sawi hijau, bensin, jagung manis, angkutan udara, ikan tuna, ikan mujair, serta jagung muda atau putren.
Dari sejumlah komoditas tersebut, tomat dan ikan layang menjadi dua komoditas yang dominan memberikan andil terhadap deflasi secara bulanan, yakni sebesar 0,31 persen.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengatakan penurunan harga tersebut merupakan bagian dari siklus yang lazim terjadi dalam perekonomian.
“Di bulan lalu ada ikan yang harganya tinggi, ternyata sekarang sudah mulai turun dibandingkan bulan lalu. Itu sangat berpengaruh. Memang siklus seperti itu biasa terjadi dalam perekonomian,” ujarnya saat diwawancara di Kendari, Selasa (1/9/2026).
Hadi menjelaskan, turunnya harga tidak selalu berarti kondisi ekonomi melemah. Dalam beberapa kasus, deflasi terjadi karena harga komoditas yang sebelumnya tinggi kembali ke tingkat normal. Namun, pemerintah tetap perlu memperhatikan penyebab di balik penurunan harga tersebut.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di empat kabupaten/kota, yakni Kendari, Baubau, Kolaka, dan Konawe, seluruh wilayah tersebut tercatat mengalami deflasi pada Agustus 2026.
“Empat kabupaten/kota yang rutin dicatat pergerakan harganya, semuanya mengalami deflasi. Artinya, ini menjadi gejala umum di Sulawesi Tenggara,” kata Hadi.
Menurut Hadi, ada keseimbangan yang harus dijaga antara kepentingan konsumen dan produsen. Harga yang terlalu tinggi dapat memberatkan masyarakat, sedangkan harga yang terlalu rendah juga berpotensi merugikan petani, nelayan, maupun produsen.
“Kalau harga terlalu tinggi, konsumen kasihan. Tetapi kalau harga terlalu rendah, produsennya juga kasihan,” katanya.
Ia menegaskan deflasi akibat normalisasi harga merupakan kondisi yang berbeda dengan penurunan harga yang terjadi karena produsen terpaksa menjual lebih murah akibat minimnya permintaan. Jika harga turun karena lemahnya permintaan atau berkurangnya pembeli, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dan intervensi pemerintah.
Meski mencatatkan deflasi secara bulanan, Sultra masih mengalami inflasi secara tahunan. Berdasarkan pemantauan BPS, inflasi Sultra secara tahunan (year on year/y-on-y) pada Agustus 2026 mencapai 3,35 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 110,32 pada Agustus 2025 menjadi 114,02 pada Agustus 2026. Sementara inflasi sejak awal tahun (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 4,02 persen.
Inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi mengalami kenaikan 6,66 persen, sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik paling tinggi, yakni 8,01 persen.
Komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, telepon seluler, udang basah, sejumlah jenis ikan, hingga biaya pendidikan perguruan tinggi.
Sebaliknya, beberapa komoditas masih memberikan andil deflasi secara tahunan, di antaranya tomat, beras, bawang merah, cabai rawit, ikan bandeng, telur ayam ras, ikan teri, ikan gabus, dan ikan mujair.
Hadi menyebut kondisi Sultra yang mencatat deflasi terjadi ketika secara nasional masih tercatat inflasi, meski angkanya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Menurutnya, secara umum terdapat indikasi perbaikan harga karena tekanan kenaikan harga mulai berkurang.
“Secara nasional masih terjadi inflasi, tetapi relatif lebih rendah. Sementara di Sultra, karena penurunan harganya lebih besar, akhirnya tercatat sebagai deflasi,” jelasnya. (B/ST)
Laporan: M11



















