SULTRATOP.COM, KENDARI – Masyarakat di sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara (Sultra) beberapa hari terakhir merasakan suhu udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga dini hari. Fenomena yang dikenal dengan istilah bediding ini umum terjadi saat musim kemarau dan dirasakan di berbagai daerah di Bumi Anoa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, suhu udara yang lebih dingin dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Australia. Angin musim tersebut membawa massa udara kering yang menyebabkan kandungan uap air di atmosfer berkurang dan pembentukan awan menjadi lebih sedikit. Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara terasa lebih dingin.
Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, mengatakan fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi selama musim kemarau. Suhu udara pada periode ini umumnya lebih rendah dibandingkan saat musim hujan, dengan kondisi paling dingin terjadi pada pukul 04.00 hingga 06.00 WITA.
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG selama Juli 2026, suhu terendah di Sultra tercatat mencapai 19,8 derajat Celsius pada 12 Juli 2026 di wilayah Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), dan sekitarnya. Meski demikian, suhu tersebut masih berada dalam kategori normal.
“Fenomena bediding ini dipengaruhi angin Monsun Timur yang membawa massa udara kering ke wilayah Sulawesi Tenggara. Kondisi ini diperkuat oleh kelembapan udara yang rendah sehingga penguapan di permukaan berlangsung lebih cepat. Dampaknya, langit pada malam hingga dini hari cenderung cerah sehingga pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer berlangsung lebih maksimal,” kata Faizal kepada Sultratop.com, Rabu (29/7/2026).
Meski demikian, menurut Faizal, kondisi cuaca di Kota Kendari dalam beberapa hari terakhir masih didominasi awan tebal. Hal ini dipengaruhi oleh faktor cuaca berskala lokal, seperti labilitas atmosfer tingkat sedang serta kelembapan udara yang masih cukup tinggi.
Ia menambahkan, suhu terendah umumnya terjadi di wilayah dataran tinggi. Penurunan suhu udara diperkirakan mencapai sekitar 1 derajat Celsius setiap kenaikan 100 meter dari permukaan laut, sehingga daerah seperti Ranomeeto berpotensi mengalami suhu yang lebih rendah dibandingkan wilayah pesisir.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penurunan suhu udara yang terjadi pada malam hingga dini hari. Warga yang beraktivitas di luar ruangan disarankan mengenakan pakaian hangat.
“Hindari aktivitas di malam hingga dini hari jika tidak mendesak. Jika harus beraktivitas, gunakan pakaian yang lebih tebal. Selain itu, terus ikuti informasi cuaca dari BMKG sebagai upaya mitigasi bencana,” tutup Faizal. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati



















