SULTRATOP.COM, KENDARI – Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat setelah banjir besar merendam belasan kelurahan di Kota Kendari dan menyebabkan dua warga meninggal dunia akibat terseret arus, Minggu (10/5/2026).
Di tengah kepungan banjir yang merendam rumah warga hingga setinggi dada orang dewasa, Pemerintah Kota Kendari mengakui penanganan banjir belum maksimal dan membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan untuk mencari solusi serius.
Siska juga menyampaikan permohonan maaf mewakili seluruh jajaran Pemerintah Kota Kendari.
“Kami sampaikan permohonan maaf ini kepada seluruh masyarakat Kota Kendari yang terdampak banjir, serta belum maksimal dalam penanganan banjir. Karena itu perlu adanya kolaborasi kuat antar lintas sektor, dan lintas jenjang pemerintahan,” tegasnya.
Siska menjelaskan bahwa perlu mengadakan koordinasi antara pemerintah kota, provinsi, dan pusat untuk membuat solusi penanganan banjir dengan serius.
“Tadi kami sudah koordinasi dengan pihak pemerintah provinsi dan pemerintah pusat segera melakukan penanganan bencana banjir,” ujarnya.
Warga Kendari Dievakuasi
Berdasarkan pantauan media Sultratop.com di lapangan, beberapa warga dievakuasi menggunakan perahu karet tim Basarnas Kendari setelah puluhan rumah warga di Kelurahan Anduonohu terendam setinggi dada orang dewasa.
Beberapa warga juga terlihat melakukan proses evakuasi mandiri menggunakan peralatan seadanya. Bahkan mereka mengikat tali dari ujung tiang menuju rumah untuk menghindari saluran drainase. Selain itu, aliran kali di Kelurahan Bunggasi meluap karena tumpukan kayu besar menyumbat.
Seorang ibu rumah tangga, Yahya, mengungkapkan rasa kesedihan setelah rumah dan harta benda terendam dalam hitungan menit di pukul 8.30 Wita. Ia tidak sempat menyelamatkan perabotan ataupun pakaian bersih.
“Jujur kami kaget air mengalir deras ke rumah, saya pun tidak sempat amankan perabotan lain. Paling surat berharga dan pakaian dua lembar tadi diambil,” ungkap Yahya dengan berlinang air mata.
Ia menyampaikan, bahwa perumahan yang di tempati memang sudah banjir sejak tahun 2013 dahulu tapi yang paling parah di tahun 2026 saat ini.
“Tiga kendaraan motor, benda elektronik tidak selamat, dan mobil tetangga juga ikut terendam, saya berharap pemerintah segera membereskan permasalahan ini. Uruslah persoalan banjir dengan serius jangan hanya didata baru pulang,” imbuhnya.
Komandan Regu Tim Basarnas Kendari, Taufan Pradana, mengatakan bahwa dari tadi malam hingga hari ini pihaknya konsentrasi di Kelurahan Wanggu untuk persiapan evakuasi ataupun observasi masyarakat setempat yang bertahan di rumah. Basarnas sampai menerjunkan delapan tim untuk memonitoring wilayah terdampak banjir.
“Kita hanya memastikan bahwa tidak ada masyarakat terdampak sakit, lansia, dan anak-anak di wilayah tersebut. Kami hanya memantau saja aktivitas serta memonitoring,” katanya.
Dihubungi terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Cornelius Padang, menyatakan bahwa pihaknya belum menerima data warga terdampak banjir di belasan wilayah.
“Kami baru menghimpun wilayah terdampak karena masih menunggu laporan jumlah masing-masing kelurahan,” singkatnya.
Berikut data sementara terdampak banjir yang dihimpun oleh BPBD Kendari:
- Bantaran Kali Wanggu, Kelurahan Lepo-Lepo
- Transito/Tunggala Kelurahan Wua-wua
- BTN Findayani Polres
- Jalan Terong Anduonohu
- Jalan Durian Anduonohu
- Bundaran Pesawat
- Perumahan Lepo-Lepo
- Lorong Bangau Anduonohu
- Jalan Malengkeri Depan Kantor BPN Kendari
- Jalan Veteran, Kelurahan Wowanggu
- Kawasan Persawahan Nanga-nanga.
- Lorong Aklamasi 1, Kelurahan Anduonohu
- Jalan Lumba-lumba Kelurahan Kambu
- Jalan Pasar Panjang, Kelurahan Kadia
- Amohalo, Kelurahan Baruga
- Lorong Lasolo, Kelurahan Sodoha
Dua Warga Meninggal Dunia
Dampak dari banjir Kendari kali ini, seorang pria dewasa ditemukan meninggal tersangkut di aliran Kali Lasolo, sementara seorang balita berusia 5 tahun hanyut saat bermain hujan dan ditemukan mengapung sejauh sekitar 1 kilometer dari lokasi awal kejadian.
Korban pertama bernama Natalis (42). Jasad korban ditemukan sekitar pukul 16.00 Wita di kawasan Air Jatuh, pemukiman Lorong Lasolo, RT01/RW01, Kelurahan Sanua, Kecamatan Kendari Barat. Korban ditemukan dalam keadaan tersangkut di aliran Kali Lasolo.
Sementara itu, korban kedua bernama Rangga (5), warga Kelurahan Punggaloba. Berdasarkan identifikasi awal, balita tersebut hanyut saat mandi dan bermain di Kali Teplang sebelum akhirnya terbawa arus deras banjir. Jasad Rangga pertama kali ditemukan oleh seorang warga sekitar pukul 10.35 Wita.
Kakak korban yang masih berusia 6 tahun juga sempat bersama Rangga di lokasi kejadian. Saat itu, sandal milik sang kakak terbawa arus dan korban berusaha mengambilnya. Korban bergegas mengambil sandal kakaknya yang hanyut. Namun saat kakaknya menoleh kembali, korban sudah hilang terbawa arus. (A/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma



















