SULTRATOP.COM, KENDARI – Di tengah suasana dua momentum keagamaan besar yang berdekatan, Idulfitri dan Paskah, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Sulawesi Tenggara (Kemenag Sultra) mengajak masyarakat memperkuat toleransi melalui semangat “rekonsiliasi hati” dalam gelaran Halal Bihalal.
Kegiatan yang digelar di Aula Kanwil Kemenag Sultra pada Senin (6/4/2026) itu menghadirkan tokoh agama, pejabat, hingga unsur keamanan dalam satu forum kebersamaan.
Acara yang dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Sultra, Mansur tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang konsolidasi nilai-nilai persatuan di tengah keberagaman.
Dalam sambutannya, Mansur menekankan bahwa Halal Bihalal bukan hanya tradisi tahunan, tetapi momentum strategis untuk mempererat hubungan antarsesama, terutama dalam konteks kehidupan berbangsa yang majemuk.
Ia menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan sosial, terlebih di tengah momentum keagamaan yang berdekatan, seperti Idulfitri dan Paskah. Menurutnya, situasi itu menjadi pengingat kuat akan pentingnya toleransi.
“Ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kebersamaan dan merawat harmoni antarumat beragama,” ujarnya.
Kegiatan tersebut mengangkat konsep “rekonsiliasi hati” sebagai kunci utama menjaga persatuan. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh menjadi sumber konflik, melainkan harus dikelola dengan sikap saling menghormati.
Menurutnya, integritas dalam menjaga persatuan tidak hanya tercermin dalam kata-kata, tetapi juga dalam sikap sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat luas.
Ia juga mengajak seluruh aparatur sipil negara di lingkup Kemenag Sultra untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan publik. Semangat kebersamaan, kata dia, harus menjadi fondasi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sultra, Muslim dalam tausiyahnya menegaskan bahwa Halal Bihalal adalah sarana rekonsiliasi sosial yang memiliki makna mendalam setelah bulan ramadan.
Ia menjelaskan, nilai-nilai spiritual yang dibentuk selama ramadan harus terus dijaga, tidak hanya melalui ibadah personal, tetapi juga lewat kepedulian sosial seperti sedekah, silaturahmi, dan menjaga akhlak.
Menurutnya, menjaga hubungan baik antarsesama serta membiasakan sikap saling memaafkan merupakan bagian penting dari implementasi ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap semangat kebersamaan dan rekonsiliasi tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi energi kolektif dalam membangun masyarakat yang harmonis, damai, dan berdaya saing,” tuturnya. (B/ST)
Kontributor: Ismu Samadhani
Di Tengah Idulfitri dan Paskah, Kemenag Sultra Ajak Perkuat Toleransi Lewat Rekonsiliasi Hati
















