SULTRATOP.COM, BAUBAU — Bangunan bersejarah tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga keunikan arsitektur yang menakjubkan. Di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), berdiri Benteng Sorawolio, sebuah benteng peninggalan Kesultanan Buton yang dindingnya dibangun menggunakan adonan batu karang dan putih telur sebagai bahan perekat.
Benteng ini terletak di Kelurahan Bukit Wolio Indah, Kecamatan Wolio, atau berjarak sekitar 1 kilometer di sebelah timur Benteng Keraton Buton. Selain sarat nilai sejarah, situs ini menawarkan suasana yang tenang dengan panorama alam yang memikat, menjadikannya salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Baubau.
Sejarah dan Keunikan Arsitektur
Benteng Sorawolio dibangun pada masa pemerintahan Sultan Saparagau (Sultan Buton ke-7) sekitar tahun 1645 Masehi. Salah satu daya tarik utamanya terletak pada teknik konstruksi dindingnya yang unik.
Bagimana bisa material benteng terbuat dari susunan batu karang yang direkatkan menggunakan adonan putih telur?
Jadi, zaman lampau sebelum semen modern ditemukan, masyarakat Buton telah memanfaatkan kapur bakar, pasir, tanah liat, serta bahan organik seperti putih telur untuk membuat adonan mortar (lime mortar). Dalam teknik bangunan tradisional ini, putih telur tidak dipakai sendirian, melainkan dicampurkan ke adonan kapur dan pasir.
Kuncinya ada pada kandungan protein albumin pada putih telur yang berfungsi sebagai agen pengikat alami (organic binder). Campuran protein ini memicu reaksi kimia saat mengering yang membuat adonan menjadi lebih kedap air, tidak mudah retak, dan merekat kuat pada pori-pori batuan karang.
Teknik tradisional itulah yang membuat dinding benteng ini memiliki struktur teramat kokoh dan bertahan menembus ratusan tahun. Entah berapa butir telur yang diperlukan, yang pasti konstruksi benteng itu jadi tanda kemajuan ilmu kontruksi masyarakat Buton di masa kesultanan.
Dinding benteng ini memiliki ketebalan mencapai satu meter dengan tinggi sekitar 6 hingga 7 meter. Berkat kombinasi material tersebut, struktur dindingnya memiliki daya tahan yang luar biasa dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Di dalam kawasan ini, sebenarnya terdapat dua benteng, yaitu Benteng Sorawolio Mangenge (lama) dan Benteng Sorawolio Baau (baru). Pada masa lalu, kedua benteng ini difungsikan sebagai bagian dari sistem pertahanan dan pos pengawal untuk benteng induk Kesultanan Buton.
Panorama Laut dan Aktivitas Warga
Karena posisinya berada di area ketinggian, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut Teluk Kota Baubau yang indah dari atas benteng. Berbeda dengan kawasan benteng pada umumnya, di dalam area Benteng Sorawolio kini hanya terdapat kuburan tua.
Keberadaan benteng ini juga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekitar. Akses pelataran benteng sering dimanfaatkan sebagai jalur lintasan warga yang hendak menuju ke pusat kota maupun pemukiman di sekitarnya.
”Saya biasanya lalu-lalang di benteng ini kalau turun ke kota. Terkadang saat pulang saya juga melewati pelataran benteng karena rumah saya berada di Kilo 4,” ujar salah seorang warga lokal yang ditemui di lokasi.
Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Baubau, Benteng Sorawolio bisa menjadi pilihan destinasi ideal untuk menikmati perpaduan antara sejarah kesultanan, keunikan arsitektur kuno, dan pemandangan alam dari ketinggian. (===)
Penulis: Moch. Refa Amirul
(Founder MianaIde dan Mahasiswa S1 Sosiologi FISIP Universitas Bosowa)
Editor: Muhamad Taslim Dalma
Dibuat Pakai Putih Telur, Ini Keunikan Benteng Sorawolio Peninggalan Kesultanan Buton

















