19 July 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Gelombang Tinggi dan Angin Kencang di Selat Tiworo, 12 Desa di Muna Barat Terisolasi

  • Bagikan
Gelombang Tinggi dan Angin Kencang di Selat Tiworo, 12 Desa di Muna Barat Terisolasi
Salah satu pemecah ombak yang rusak akibat gelombang tinggi yang berada di Desa Mandike dan Tasipi, Kecamatan Tiworo Utara, Muna Barat. (Foto Istimewa).

SULTRATOP.COM, MUNA BARAT —Gelombang tinggi disertai angin kencang yang melanda wilayah kepulauan di Selat Tiworo, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (Sultra) sejak 12 Januari lalu menyebabkan lumpuhnya aktivitas transportasi laut.

Akibat kondisi tersebut, sejumlah infrastruktur seperti tambatan perahu hingga pemecah ombak mengalami kerusakan. Selain itu, gelombang tinggi juga mengganggu akses transportasi laut masyarakat di wilayah kepulauan.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Kepala BPBD Muna Barat, Muhammad Naazirun, mengatakan, dirinya bersama tim turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi terkini serta dampak yang ditimbulkan oleh gelombang tinggi dan angin kencang tersebut.

Ia mendapati sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan parah, di antaranya pemecah ombak yang berada di Desa Maginti, Kangkonawe, Pasipadangan, Mandike, dan beberapa desa lainnya.

“Kerusakan pemecah ombak cukup signifikan dan saat ini gelombang masih berpotensi membahayakan. Kondisi ini berdampak langsung pada akses dan keselamatan masyarakat pesisir,” kata Muhammad Naazirun, Jumat (30/1/2026).

Naazirun menyampaikan, gelombang setinggi sekitar satu meter yang disertai angin kencang membuat masyarakat tidak berani menyeberang maupun melaut. Hal ini membatasi aktivitas pelayaran serta distribusi logistik ke wilayah kepulauan.

“Kami mencatat sebanyak 12 desa di wilayah kepulauan sekitar Selat Tiworo mengalami keterisolasian, sehingga mengganggu akses transportasi laut,” ujarnya.

Naazirun menegaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna mengambil langkah penanganan darurat. Koordinasi tersebut difokuskan pada pemenuhan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, meliputi air bersih, sembako, makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi balita, serta kebutuhan khusus bagi kelompok rentan seperti lansia.

Ia menambahkan, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan intensif, pendataan dampak, serta penyiapan langkah penanganan lanjutan guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan risiko bencana dapat diminimalkan.

Untuk diketahui, 12 desa yang berada di tiga kecamatan—Maginti, Tiworo Utara, dan Tikep—di wilayah kepulauan tersebut meliputi Desa Bangko, Desa Gala, Desa Maginti, Desa Kangkonawe, Desa Pasipadangan, Desa Santiri, Desa Tasipi, Desa Mandike, Desa Santigi, Desa Tiga, Desa Bero, dan Desa Katela. (B/ST)

Laporan: Adin

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan