SULTRATOP.COM, KENDARI – Potensi besar aspal alam Buton atau Asbuton terus menjadi perhatian dalam dunia penelitian. Kali ini, sumber daya lokal Sulawesi Tenggara tersebut dibawa dari kawasan Lawele, Kabupaten Buton, ke Laboratorium Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka untuk dikaji lebih lanjut, khususnya dalam upaya mengoptimalkan pemisahan bitumen dari material mineral penyusunnya.
Penelitian tersebut dilakukan Elisa Fitria Mukti, mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi USN Kolaka. Melalui riset bertajuk “Studi Pemisahan Bitumen dari Asbuton Menggunakan Metode Air Panas dengan Penambahan Surfaktan Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Pelarut Solar”, Elisa mencoba menemukan kondisi optimal untuk meningkatkan efektivitas proses pemisahan bitumen melalui pendekatan ilmiah.
Penelitian ini dilaksanakan di bawah bimbingan Faradisa Anindita sebagai Pembimbing I dan Alfiah Alif sebagai Pembimbing II, keduanya dari Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi USN Kolaka.
Riset ini dilakukan selama April hingga Juli 2026 di Laboratorium Terpadu USN Kolaka. Sampel Asbuton diperoleh dari PT Wijaya Karya Bitumen (WIKA Bitumen) dan berasal dari kawasan Lawele, salah satu wilayah penghasil aspal alam di Kabupaten Buton.
“Kajian tidak hanya menggunakan material simulasi di laboratorium, tetapi meneliti karakteristik sampel yang berasal dari sumber daya alam Sultra tersebut,” kata Faradisa dalam keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu (29/8/2026).
Asbuton diketahui mengandung bitumen yang terikat dengan mineral. Kondisi ini membuat proses pemisahan menjadi salah satu tahapan penting untuk memperoleh bitumen yang karakteristiknya dapat dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut.
Bitumen sendiri berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengikat dalam konstruksi perkerasan jalan. Dalam penelitian tersebut, Elisa menggunakan metode air panas atau hot water process dengan suhu 90 derajat Celsius. Prosesnya dikombinasikan dengan penambahan surfaktan Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan solar sebagai pelarut.
SLS berfungsi membantu menurunkan tegangan antarmuka antara bitumen dan mineral. Sementara solar, sebagai pelarut nonpolar, membantu melunakkan dan menurunkan viskositas bitumen sehingga proses pelepasannya dari matriks mineral dapat berlangsung lebih efektif.
Penelitian ini menguji tiga variabel utama, yakni konsentrasi SLS sebesar 0 persen, 0,75 persen, dan 1,5 persen. Variabel berikutnya adalah penambahan solar sebesar 40 persen, 50 persen, dan 60 persen, serta waktu pengadukan selama 30, 60, dan 90 menit.
Ketiga faktor tersebut kemudian dianalisis untuk melihat pengaruhnya terhadap jumlah bitumen yang berhasil dipisahkan (yield), densitas, dan viskositas.
Untuk menemukan kombinasi terbaik, penelitian menggunakan pendekatan Response Surface Methodology (RSM) dengan rancangan Box-Behnken Design (BBD). Metode tersebut digunakan untuk menganalisis pengaruh setiap variabel, termasuk interaksi di antara ketiganya.
Data kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan perangkat lunak Design-Expert versi 13.

Hasil penelitian menunjukkan yield bitumen berada pada kisaran 13,57 hingga 42,18 persen. Sementara densitas berada pada kisaran 0,54–1,04 g/cm³ dan viskositas berkisar antara 194,4 hingga 834,9 mPa·s.
Dari analisis yang dilakukan, setiap variabel memberikan pengaruh berbeda terhadap hasil pemisahan.
Konsentrasi SLS diketahui berpengaruh nyata terhadap viskositas. Penambahan solar berpengaruh nyata terhadap yield, sedangkan waktu pengadukan memberikan pengaruh nyata terhadap ketiga parameter yang diamati, yakni yield, densitas, dan viskositas.
Melalui proses optimasi, penelitian tersebut menemukan kombinasi kondisi terbaik pada konsentrasi SLS 1,491 persen, penambahan solar 40 persen, serta waktu pengadukan selama 30 menit.
Pada kondisi itu, model memprediksi yield sebesar 38,474 persen, densitas 1,040 g/cm³, dan viskositas 823,735 mPa·s. Nilai desirability mencapai 0,949, yang menunjukkan tingkat kesesuaian tinggi terhadap target optimasi penelitian.
Penelitian ini menjadi salah satu upaya mengangkat potensi sumber daya lokal Sulawesi Tenggara melalui pendekatan ilmiah.
Asbuton memiliki potensi besar sebagai sumber aspal alam nasional. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya memperoleh bitumen dari matriks mineral secara efektif agar karakteristiknya dapat dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut.
Riset yang dilakukan mahasiswa Kimia USN Kolaka ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan metode pemisahan bitumen yang lebih efektif.
Penggunaan sampel Asbuton dari Lawele, dengan dukungan penyediaan bahan dari PT Wijaya Karya Bitumen (WIKA Bitumen), juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam mengembangkan penelitian berbasis potensi daerah.
Ke depan, penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan melalui uji konfirmasi terhadap kondisi optimal yang telah ditemukan. Kajian lanjutan juga dapat dilakukan dengan menguji karakteristik bitumen secara lebih lengkap, seperti penetrasi, titik lembek, daktilitas, hingga komposisi kimia.
Pengembangan penggunaan surfaktan dan pelarut yang lebih ekonomis serta ramah lingkungan juga menjadi peluang penelitian berikutnya. (B/ST)
Laporan: M11
Editor: Jumriati













