SULTRATOP.COM, KONAWE KEPULAUAN – Dikenal sebagai bangsa pelaut dunia, masyarakat Bajau (suku Bajo) merupakan komunitas maritim tangguh yang tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, orang Bajau menghuni hampir seluruh wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kehadiran mereka telah menjadi bagian penting dari sejarah peradaban bahari Nusantara, dengan laut sebagai ruang hidup dan sumber penghidupan turun-temurun.
Ketangguhan dan kekayaan peradaban bahari inilah yang dipamerkan secara memukau oleh Kerukunan Keluarga Bajo Wawonii dalam gelaran Kirab Budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) pada Rabu (20/5/2026).
Kehadiran barisan paguyuban suku Bajo dalam kirab budaya ini sukses mencuri perhatian ribuan pasang mata serta para pejabat daerah lewat parade yang sarat akan warna dan filosofi kehidupan laut.
Perwakilan Paguyuban Suku Bajo, Janus Munandar, mengungkapkan bahwa momentum kirab budaya bersejarah ini—yang baru pertama kali diadakan sejak 13 tahun Konkep mekar—menjadi panggung penting untuk memperkenalkan identitas asli masyarakat pesisir yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.
“Masyarakat kami suku Bajo sangat antusias dengan adanya kirab budaya ini. Bahkan peserta yang ikut mencapai 600 orang, dan mereka sangat totalitas dalam kegiatan ini. Insyaallah ke depan kami juga tetap akan menampilkan hal-hal yang lebih unik lagi,” ujarnya penuh bangga.
Kreativitas tinggi ditunjukkan rombongan masyarakat adat Bajo Wawonii dengan menampilkan Kalapaeya yang di atasnya terdapat Soppe’. Langkah ini menjadi simbol harmonisasi yang indah di Pulau Wawonii.
Kalapaeya sendiri merupakan wadah penampung makanan yang menjadi simbol kerukunan masyarakat Pulau Wawonii sejak dahulu kala. Sementara Soppe’ adalah replika perahu layar yang merupakan rumah tempat tinggal leluhur masyarakat laut Suku Same (sebutan asli Suku Bajau). Perpaduan dua simbol budaya ini sarat akan makna mendalam dan menjadi bagian penting dalam tradisi persatuan masyarakat di Pulau Wawonii. Di atas soppe’ tersebut, tersaji aneka makanan khas suku Bajo.
Kekayaan peradaban suku Bajo tercermin kuat dari kontrasnya barisan yang mereka tampilkan. Di barisan depan, kemegahan terpancar dari para peserta yang mengenakan pakaian adat formal suku Bajo yang didominasi warna hitam sakral. Peserta laki-laki tampil gagah dengan sigar (penutup kepala khas), sementara para perempuannya tampil anggun dan mewah mengenakan mahkota emas yang berkilau di kepala.
Keanggunan busana adat tersebut berpadu sempurna dengan barisan teatrikal yang menggambarkan miniatur kehidupan nyata nelayan suku Bajo. Pada barisan ini, para perempuan tampil autentik mengenakan kain sarung dan topi anyaman saraoh sebagai pelindung panas saat melaut.
Wajah mereka tampak dibaluri dengan barra tuto’, bedak dingin tradisional berwarna kuning dari olahan beras yang sehari-hari berfungsi sebagai sunscreen alami saat melaut.
Menambah kesan teatrikal yang hidup, mereka juga mengarak berbagai alat perlengkapan melaut tradisional, seperti tombak, dayung, hingga keranjang anyaman, seolah membawa atmosfer kehidupan laut lepas ke tengah-tengah pusat kota.
Misteri Sakral Panji Ula-Ula
Daya tarik paling sakral dari kontingen ini adalah dikibarkannya Panji Bangsa Bajau berwarna hitam yang disebut Ula-Ula. Berdasarkan kepercayaan turun-temurun sejak ratusan abad yang lalu, Ula-Ula diyakini sebagai kekuatan gaib yang menjelma dalam bentuk gurita jadi-jadian. Makhluk mitologi ini konon dapat berubah wujud menjadi gunung, perahu layar, bahkan berwujud manusia tua berjenggot. Sosok misterius ini pantang untuk disebut namanya, dan hanya boleh dipanggil dengan sebutan Umbo’ Janggok (Kakek Jenggot).

Kini, di era modern, panji Ula-Ula telah bergeser makna menjadi simbol persatuan, kehormatan, keberanian, dan identitas kolektif masyarakat Bajau di mana pun mereka berada di dunia. Bendera ini menjadi lambang persaudaraan sekaligus tekad kuat untuk menjaga adat, budaya, dan kelestarian laut sebagai warisan leluhur yang wajib dijaga bersama.
Pamerkan Kelas Literasi Lewat Dua Buku
Tidak sekadar berparade, paguyuban suku Bajo juga menunjukkan kelasnya di bidang literasi dengan menyerahkan dua buah buku penting kepada pemerintah daerah Konkep sebagai upaya memperluas pengetahuan tentang Suku Bajau:
Buku Ensiklopedia Etnoekologi Laut Orang Bajo Pulau Wawonii: Buku karya La Ode Topo, Efriani, Alias, La Ode Ahmalium, dan Ferdin ini menggambarkan secara detail sistem pengetahuan laut masyarakat Bajo, ekologi pesisir, tradisi penangkapan ikan, hingga nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Novel “Manusia Perahu Terakhir”: Buku karya penulis lokal Erni Bajau ini mengupas latar belakang kehidupan Suku Bajau di Pulau Wawonii. Hebatnya, novel ini berhasil menjadi nominator Memori Kolektif Bangsa oleh Lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) tahun 2023, sebuah penghargaan bergengsi dari negara terhadap karya dan dokumen penting yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi bagi bangsa Indonesia.
Melalui Kirab Budaya Wonderful Wawonii ini, suku Bajo sukses membuktikan bahwa identitas budaya bahari mereka bukan sekadar pemanis acara, melainkan kekayaan intelektual dan historis yang memperkaya warna kebudayaan di Pulau Wawonii, sekaligus mempererat persatuan dalam keberagaman Indonesia. (—)
Penulis: Jumriati










