SULTRATOP.COM, KONAWE KEPULAUAN — Untuk pertama kalinya sejak berdiri sebagai daerah otonom 13 tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) sukses menggelar Kirab Budaya pada Rabu (20/5/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pergelaran Wonderful Wawonii untuk memperingati HUT ke-13 Konkep.
Iring-iringan kirab budaya yang juga disebut Parade Kalapaeya ini dipimpin langsung oleh Bupati Konawe Kepulauan, Rifqi Saifullah Razak, bersama Ketua TP PKK Konkep, Ucha Nidya Ramadhani Rifqi. Bupati Rifqi tampil gagah mengenakan kemeja tenun bermotif khas dengan penutup kepala khas Wawonii. Sementara sang istri tampil elegan mengenakan pakaian adat berwarna hijau botol berornamen emas yang dominan.
Disebut parade kalapaeya karena masing-masing barisan mengarak kalapaeya, wadah penampung makanan tradisional masyarakat Wawonii yang terbuat dari pelepah sagu. Ini berfungsi sebagai sarana ritual sekaligus simbol identitas kolektif komunal yang sakral.
Ada enam paguyuban etnik besar yang mendiami Pulau Wawonii turut ambil bagian dalam pagelaran budaya tersebut. Keenamnya adalah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, Kerukunan Keluarga Wawonii Tolaki, Kerukunan Keluarga Menui Wawonii, Kerukunan Keluarga Muna Wawonii, Kerukunan Keluarga Buton Wawonii, dan Kerukunan Keluarga Bajo.
Selain paguyuban suku, barisan kirab budaya ini dimeriahkan juga oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah kecamatan, hingga instansi vertikal seperti KPU, Bawaslu, dan Kemenag yang ikut ambil bagian.
Para peserta yang diperkirakan mencapai 1.000 lebih orang ini berjalan kaki dari Kantor Kemenag Konkep menuju pusat acara di Lapangan TPI Langara. Kemeriahan kirab budaya perdana ini semakin lengkap dengan kehadiran Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka.

Dalam sambutannya, Gubernur Andi Sumangerukka memberikan apresiasi tinggi kepada Pemkab Konkep dan seluruh masyarakat atas terselenggaranya kegiatan bersejarah ini. Menurutnya, Konkep adalah daerah yang indah bukan hanya karena pesona alamnya, tetapi juga karena keberagaman adat istiadatnya yang wajib dilestarikan.
“Saya berharap melalui kirab budaya ini, kita dapat membangun sektor pariwisata serta memberikan ruang bagi UMKM, ekonomi kreatif, dan kuliner lokal. Hal ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Konawe Kepulauan dan Sultra pada umumnya,” ujar Andi Sumangerukka.
Gubernur juga mengajak seluruh generasi muda untuk mencintai budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Sementara Bupati Konkep, Rifqi Saifullah Razak mengatakan, kirab budaya ini merupakan upaya menjaga dan merawat identitas daerah serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya dan warisan leluhur di tengah arus modernisasi, sejalan dengan visi menuju Wawonii EMAS (Ekonomi Maju, Adil dan Sejahtera) Berkelanjutan Tahun 2030.
Unjuk Atraksi Budaya Lintas Suku
Tepat di depan panggung penghormatan di kawasan Lapangan TPI, masing-masing paguyuban tampil memukau dengan memamerkan pakaian adat serta mementaskan atraksi budaya terbaik mereka.
Barisan pawai paguyuban dimulai dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), mereka menampilkan tarian daerah yang merefleksikan keberagaman suku di Sulawesi Selatan. Disusul oleh barisan dari paguyuban Kerukunan Keluarga Tolaki, lalu Kerukunan Keluarga Menui. Suasana kirab semakin semarak dengan melintasnya rombongan paguyuban Keluarga Muna. Kehadiran mereka terasa sangat istimewa karena dikawal langsung oleh Raja Muna, La Ode Riago. Setelah itu, giliran Paguyuban Suku Buton yang unjuk gigi memamerkan pesona budayanya.

Sebagai penutup barisan paguyuban, suku Bajo sukses mencuri perhatian penonton dan para pejabat yang hadir lewat simbol-simbol kebudayaan maritim mereka yang khas. Di depan gubernur dan bupati, paguyuban suku Bajo memukau penonton lewat seni tarian Ngigal yang dibawakan oleh enam orang ibu-ibu.
Eksotisme keseharian suku Bajo yang tak bisa lepas dari alam pesisir tercermin kuat dari pakaian para peserta. Peserta laki-laki tampil gagah mengenakan sigar (penutup kepala), sementara para perempuannya mengenakan saraoh (topi anyaman pelindung dari panas matahari) serta membaluri wajah mereka dengan barra tuto’. Riasan ini merupakan bedak dingin tradisional berwarna kuning dari olahan beras yang berfungsi sebagai sunscreen alami saat beraktivitas di bawah sinar matahari.

Setelah parade budaya ini berakhir, berbagai jenis makanan yang tersaji di dalam Kalapaeya tersebut langsung menjadi rebutan para peserta dan warga yang hadir. Prosesi perebutan makanan ini berlangsung seru dan penuh tawa, merefleksikan rasa syukur dan kebersamaan yang melekat erat di masyarakat Pulau Wawonii.
Hadirnya Kirab Budaya Parade Kalapaeya perdana ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas instansi dan masyarakat, tetapi juga menjadi bukti nyata keharmonisan lintas etnis yang terjaga dengan sangat kokoh di Pulau Wawonii sejak 13 tahun berdiri sendiri sebagai daerah otonom. (—)
Penulis: Jumriati

















