15 July 2024
Indeks

Tari Pajogi di Wakatobi, Kisah Seorang Ibu Merindukan Putranya yang Merantau

  • Bagikan
Pajogi Wakatobi
Sejumlah penari menampilkan tari pajogi di Desa Desa Pookambua, Wakatobi. (Sumber Gambar: Youtube @DunianyaLaArus)

SULTRATOP.COM – Kabupaten Wakatobi memiliki kekayaan budaya yang khas mulai dari kabuenga (ayunan), posepa’a (tradisi saling menendang), tari pajogi, dan masih banyak lagi. Semua ini sangat menghibur bagi masyarakat setempat dan merupakan kearifan lokal yang keberadaannya terus eksis hingga kini.

Terkait tari pajogi ini telah dibahas dalam hasil penelitian Suriana yang terbit pada Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 2 No. 3, Desember 2017. Menurut hasil penelitian itu, tari pajogi adalah salah satu tari hiburan pada masyarakat Wangi-Wangi, yang digunakan pada acara yang berhubungan dengan ekspresi kegembiraan, seperti akikah, perkawinan, penyambutan tamu penting, sunatan, dan lain-lain.

Iklan Astra Honda Motor Sultratop

Tari Pajogi yang dikenal masyarakat Wangi-Wangi terbagi atas dua versi yaitu,tari pajogi versi umum (berasal dari masyarakat Waginopo) dan tari pajogi versi masyarakat Pookambua,pada dasarnya tari pajogi versi umum dan tari pajogi versi masyarakat Pookambua sama, namun ada sedikit perbedaan dari sisi penafsiran mengenai asal mula tari pajogi dalam masyarakat Wangi-Wangi,serta gerakanya.

Tari pajogi versi umum masyarakat Wangi-Wangi mengatakan bahwa, tari pajogi adalah salah satu tari hiburan yang ada sejak lama di pulau Wangi-Wangi, tepatnya di kampung Katapi atau di Desa Waginopo sekarang ini, tari ini ada karena dibawa oleh para pelaut-pelaut yang sering berlayar ke daerah Jawa maupun Sulawesi Selatan.

“Kemudian koreografer tari yang ada pada saat itu, menciptakan dan memadukan gerakan-gerakan tari yang dibawa oleh para pelaut, sehingga terbentuklah tari pajogi. Sedangkan tari pajogi versi masyarakat Pookambua berawal dari adanya kejadian pada zaman dulu yaitu seorang Ibu bernazar bahwa jika suami dan anaknya pulang merantau maka ia akan menyambut mereka dengan tari pajogi,” tulis Suriana dalam penelitian berjudul “Sejarah Tari Pajogi Masyarakat Waginopo di Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi”.

Sumber lain dalam rujukan penelitian itu yakni Ali Hadara dkk. dalam “Mingku I Hato Pulo” (2013) menyebut bahwa tari pajogi adalah tari yang mengisahkan seorang ibu yang ditinggalkan putra kesayangannya. Tari ini seperti nazar atau janji seorang ibu apabila anaknya datang maka sang ibu akan mengambil kipas yang terbuat dari janur dan berjoget menyambut anaknya.

Lebih lanjut Suariana menjelaskan bahwa tari pajogi dalam perkembanganya sudah membudaya pada masyarakat Wangi-Wangi. Lambat laun menjadikan tari ini mengalami perkembangan yang pesat dalam penerapannya di kalangan masyarakat Wangi-Wangi, dibuktikan dengan mudahnya dijumpai pelaksanaan tari pajogi.

Dulunya tari pajogi hanya digunakan sebagai tari hiburan oleh masyarakat. Kemudian berkembang menjadi tari penyambutan misalnya, penyambutan tamu-tamu penting terutama setiap ada tamu kenegaraan atau tamu penting lainnya.

Pajogi kadang jadi tari pengiring adat contohnya pengiring adat karia dan adat perkawinan. Selain itu juga tari pajogi biasa digunakan pada acara tradisi kabuenga (ayunan), mendapatkan kabar gembira, parame’a (pesta rakyat), dan berbagai acara yang mengungkapkan bentuk ekspresi kegembiraan.

Gerakan Tari Pajogi

Pelaksanaan tari pajogi diiringi dengan alat musik tradisional seperti gong besar (mbololo dan tawa-tawa), gong kecil (ndengu-ndengu), gendang (topa). Tari pajogi dilakukan oleh satu orang penari perempuan di atas tikar yang telah disediakan, dan laki-laki bergantian untuk ngibing (turut menari).

Kemudian dalam perkembanganya tari pajogi sudah mulai dilakukan secara bersama-sama, atau dengan kata lain tidak hanya dimainkan oleh seorang penari saja, tetapi bisa empat atau lima, dan dua laki-laki yang disiapkan untuk ngibing.

“Gerakan tari pajogi cukup gampang, yaitu, dimulai penari perempuan merunduk dan membalikkan atau berputar badan kearah kiri, sambil melihat selendang yang dipegang di tangan kiri dan sejajar dengan bahu dengan posisi badan agak miring ke belakang, setelah itu dilanjutkan dengan mengulangi gerakan ke sebelah kanan dengan berfokus pada kipas yang dipegang di sebelah kanan,” tulis Suriana.

Gerakan tari pajogi diiringi dengan nyanyian-nyanyian, dan gerakan tari diulang terus sampai beberapa kali. Selanjutnya, bila ada pemuda yang datang untuk melakukan ngibing, maka pemuda tersebut harus memberikan atau menyerahkan saweran kepada penari di talang penghormatan. (===)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI

  • Bagikan