15 July 2024
Indeks

Menguji Adrenalin di Wisata Arung Jeram Tinukari

  • Bagikan
Menguji Adrenalin di Wisata Arung Jeram Tinukari
Keseruan wisatawan saat menjajal rafting atau arung jeram di Desa Wisata Tinukari. (Gambar: IG @tinukari_adventure)

SULTRATOP.COM – Tidak semua orang di kantornya mau ikut family gatering (acara liburan) saat diajak menjajal destinasi wisata Desa Tinukari. Kebanyakan takut dengan wisata alamnya yang menantang, khususnya rafting atau arung jeram.

Isrha Quuensha memilih ikut meskipun belum pernah berwisata arung jeram. Ia pun membaca dan menonton tentang arung jeram sebagai bahan persiapan dan observasi awal.

Iklan Astra Honda Motor Sultratop

Bersama delapan orang teman kantornya, Isrha berangkat dari Kota Kendari ke Desa Tinukari, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Mei 2022 lalu. Mereka didampingi oleh komunitas wisata setempat, termasuk penyediaan peralatan.

Sebelum menjajal sungai Tinukari, mereka diberikan jaket keselamatan (life jacket), pelindung kepala dan dayung. Mereka juga diberi arahan terlebih dahulu tentang tata cara olah raga arung jeram dan standar prosedur keselamatan dan lain sebagainya oleh instruktur.

Isrha memilih naik di perahu karet yang berisi enam orang. Bagian depan dan belakang perahu karet diisi oleh dua anggota komunitas pendamping yang sudah ahli, sementara Isrha bersama tiga temannya di tengah.

Suasananya makin menantang bagi mereka karena kebetulan datang hujan hingga membuat arus sungai bertambah deras. Meski begitu, Isrha dan kawan-kawan tetap melaju di tengah sungai.

Perahu karet meluncur di antara bebatuan dan arus yang membuat mereka tampak naik turun. Tak jarang teriakan keseruan memecah suasana alam yang rimbun dengan pepohonan.

Jantung berdegup kencang ditambah rasa panik, adrenalin makin terpacu dirasakan oleh Isrha mana kala meliuk naik turun di antara bebatuan besar. Terlintas di pikiran Isrha bagaimana kalau jatuh atau perahu terbalik, makanya dirinya berpegang kuat di perahu karet.

“Menantang banget kalau itu (arung jeram) karena kita panik juga, takut jangan sampai kita tenggelam baru tidak tahu berenang,” tutur Isrha.

Sepanjang perjalanan 2,5 kilometer mengarungi sungai dengan waktu kurang lebih 40 menit tak terasa, waktu yang cukup singkat tapi membekas selamanya. Bagi Isrha, tidak salah kalau arung jeram di Sungai Tinukari adalah tentang menemukan keberanian di tengah derasnya arus.

Meski sangat menantang dan berbahaya, Isrha tetap merekomendasikan arung jeram di sungai Tinukari sebagai pilihan berwisata. Sebab, pendampingan dari komunitas wisata setempat sudah memenuhi standar, seperti peralatan dan pendampingan selama di perahu karet.

Awal Desa Tinukari Jadi Desa Wisata

Menguji Adrenalin di Wisata Arung Jeram Tinukari
Aliran sungai Tinukari yang jadi tempat olahraga arung jeram.

Desa Wisata Adventure Tinukari mengandalkan rafting atau arung jeram dan flying fox. Bagi Anda pencinta wisata yang menguji nyali seperti ini, tak ada salahnya memasukkan Desa Tinukari ke dalam salah satu daftar destinasi wisata yang wajib dikunjungi.

Wisata arung jeram di Desa Tinukari ini merupakan yang pertama di Sultra. Panjang sungai yang dilalui yakni sekitar 2,5 kilometer. Apabila arus normal, waktu tempuh yang dibutuhkan 30 hingga 40 menit. Namun, bila arus deras bisa lebih cepat dari hitungan waktu tersebut.

Untuk wahana flying fox memiliki ketinggian 30 meter dengan panjang lintasan 185 meter. Flying fox yang melintas di atas sungai ini sengaja dihadirkan untuk melengkapi wisata arung jeram.

Kepala Desa Tinukari, Hasrawati, bercerita awal mula Tinukari menjadi desa wisata. Saat itu ada pengunjung dari luar Sultra yang hendak mendaki ke Gunung Mekongga. Saat mengecek arus sungai, menurut pengunjung tersebut, arus Sungai Tinukari cocok untuk arung jeram.

Pemerintah Desa Tinukari pun menyambut baik masukan tersebut. Dengan adanya wisata arung jeram diyakini akan makin menarik minat wisatawan, baik lokal, nasional, maupun mancanegara untuk berkunjung ke Desa Tinukari. Apalagi, desa itu sudah sering dikunjungi oleh wisatawan asing yang ingin mengeksplorasi Pegunungan Mekongga.

Pemerintah Desa Tinukari kemudian menggelontorkan anggaran dana desa untuk membeli peralatan rafting. Pengelolaan wisata di Desa Tinukari juga diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.

Hasrawati mengakui kunjungan wisatawan ke desanya memang belum terlalu banyak karena arung jeram merupakan wisata minat khusus.

Untuk saat ini, kata Hasrawati, hanya arung jeram yang masih beroperasi, sedangkan flying fox ada kendala sehingga pihak pengelola tidak membuka wahana satu ini.

“Saat ini dalam proses perbaikan (flying fox). Nanti sudah bagus lagi baru dibuka kembali,” kata Hasrawati dihubungi, 4 Juli 2024.

Selain arung jeram, di Desa Tinukari juga pengunjung bisa mendaki ke Gunung Mekongga. Seperti diketahui, Desa Tinukari merupakan titik start jika ingin mendaki ke Gunung Mekongga karena letaknya yang berada tepat di dasar kaki pegunungan Mekongga.

Selain itu, ada kelebihan berwisata di Desa Tinukari, yakni pemandangan alamnya yang memanjakan mata. Bahkan pemerintah desa memanfaatkan lahan di bantaran sungai untuk pengunjung yang ingin camping.

“Testimoni pengunjung yang pernah ke Tinukari ini rata-rata tertarik dengan alamnya yang sejuk, pemandangan pegunungan yang ada. Anginnya juga sepoi-sepoi,” ungkap Hasrawati.

Tak hanya itu, Desa Wisata Tinukari juga dekat dengan beberapa objek wisata lainnya yang ada di Kolaka Utara, seperti Danau Biru dan Gua Tapparang yang bisa menjadi pilihan wisata lainnya setelah berkunjung ke Tinukari.

Paket Wisata yang Ditawarkan

Menguji Adrenalin di Wisata Arung Jeram Tinukari
Arus yang deras di antara bebatuan menguji adrenalin wisatawan arung jeram Tinukari.

Untuk memudahkan pengunjung memberitahukan kedatangannya, pihak pengelola wisata arung jeram Tinukari sudah membuat akun Instagram resmi @tinukari_adventure sebagai media layanan wisata.

Di dalam bio akun IG tersebut sudah terdapat nomor telepon yang bisa dihubungi. Pihak pengelola juga mencantumkan aktivitas yang bisa dipilih, seperti rafting, flying fox, mendaki ke Gunung Mekongga hingga camping.

Menurut Hasrawati, ada tiga pilihan paket wisata yang ditawarkan di Desa Tinukari, yakni grade family, medium, dan hard.

Untuk paket hard, pengunjung berjalan kaki sepanjang 12 km menuju titik star dan harus camping. Pengunjung juga diberi pelatihan mengenai standar operasional prosedur (SOP). Paket wisata ini dibanderol Rp1,5 juta untuk lima orang, sudah termasuk konsumsi dan dokumentasi.

Sedangkan paket medium menempuh jarak lima sampai enam kilometer berjalan kaki masuk ke lokasi star. Menyeberang sungai tiga kali dan tidak perlu camping. Paket medium ini dibanderol Rp750 ribu dengan tambahan coffee break.

Terakhir paket family yang dibanderol hanya Rp250 ribu saja, tapi tidak termasuk konsumsi.

Saat ini, pengelola wisata Tinukari Adventure hanya melayani tamu by order atau berdasarkan pesanan. Namun, jika ada pengunjung yang datang mendadak tanpa pemberitahuan ke pihak pengelola maka akan tetap dilayani.

Pengunjung yang hendak bermain arung jeram juga tak perlu khawatir karena semua skipper atau pendamping sudah mempunyai lisensi dan mendapatkan pelatihan water rescue.

Akses ke Tinukari

Desa Tinukari dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari Kota Kendari, ibu kota Sultra, perjalanan kurang dari enam jam sementara dari Kabupaten Kolaka sekitar dua jam. Dari Lasusua, ibu kota Kolaka Utara hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit saja.

Pengunjung bisa langsung ke lokasi atau gazebo dengan membawa kendaraan masing-masing. Jarak jalan poros Rante Angin–Lasusua ke lokasi gazebo ada sekitar dua kilometer.

Dikatakan Hasrawati, akses jalan ke objek wisata arung jeram Tinukari ada yang rabat beton, ada yang sudah diaspal, dan ada juga yang masih proses perbaikan, belum dirabat beton.

Linto, salah satu penjelajah objek wisata di Sultra, yang juga pernah mengunjungi Desa Wisata Tinukari mengatakan, arung jeram Tinukari mampu memberikan sensasi tersendiri, meski panjang sungai yang menjadi titik arung jeram hanya sepanjang dua kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Linto menyebut arung jeram Tinukari menjadi satu-satunya wisata arung jeram di Sultra yang komersil dan masih beroperasi sampai sekarang.

Menurutnya, wisata arung jeram ini masih bisa dikembangkan dalam hal jarak. Titik start bisa diubah mejadi lebih jauh dari sebelumnya.

Terkait akses, walaupun perjalanan dari Kota Kendari terbilang lama, namun ada beberapa destinasi yang bisa menjadi alternatif, sebelum ke Tinukari. Sebut saja Sungai Tamborasi dan Pantai Indah Kapu.

Untuk fasilitas di Desa Tinukari juga sudah cukup memadai. Terdapat area camp bagi yang ingin mendirikan tenda, ada gazebo dan homestay.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara resmi menjadikan Desa Tinukari sebagai desa wisata pada 2018 dengan arung jeram sebagai objek wisata andalan.

Arung jeram Desa Tinukari ini juga pernah masuk nominasi wisata air terpopuler di ajang Anugerah Pesona Indonesia pada 2020. (—)

 

Reporter: Tim Redaksi
Editor: Jumriati

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI

  • Bagikan