21 June 2024
Indeks
Iklan Sultratop

Mengenal Tebing Sawapudo, Wisata Climbing yang Cocok untuk Uji Adrenalin

  • Bagikan
Mengenal Tebing Sawapudo, Wisata Climbing yang Cocok untuk Uji Adrenalin
Tebing Sawapudo yang jadi tempat olahraga panjat tebing atau climbing

SULTRATOP.COM, KENDARI – Jika mencari lokasi wisata panjat tebing yang dekat dengan pusat kota, Tebing Sawapudo jawabannya. Seperti namanya, Tebing Sawapudo terletak di Desa Sawapudo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Tebing Sawapudo mulai dikenal ketika kalangan mahasiswa pencinta alam (mapala) di Sultra kerap menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tempat memanjat tebing atau climbing untuk menguji adrenalin.

Iklan Astra Honda Motor Sultratop

Tebing Sawapudo sendiri mulai dieksplorasi sekitar 1995 oleh Mapala dari Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra). Itulah sebabnya masyarakat setempat menamai tebing ini dengan sebutan Tebing Mapala Unsultra.

Selain itu, masyarakat Desa Sawapudo juga menyebut tebing ini dengan nama Tebing Kotani Langge yang memiliki arti batu gelang. Nama ini diambil dari perwujudan bentuk tebing yang bagian bawahnya menyerupai gelang.

Kepala Desa Sawapudo Arimin mengatakan, lokasi tebing ini dulunya adalah hutan dan tergolong tempat keramat. Anak-anak dilarang masuk kecuali orang tua. Namun, karena lokasinya sudah dibuka serta dibuatkan jalan lingkar setapak, saat ini siapa saja bebas keluar masuk di Tebing Sawapudo.

Arimin mengungkapkan, banyak yang menyukai climbing di Tebing Sawapudo ini karena batunya keras dan tidak mudah rapuh. Sehingga memberikan rasa aman kepada para climber saat memanjat tebing.

Kata Arimin, tebing tersebut pernah diukur. Luasnya sekitar 1 km persegi sementara tinggi tebing 15 sampai 20 meter.

Arimin menjelaskan, selain wisata tebing, di lokasi tersebut juga ada sebuah gua. Di dalam gua itu terdapat banyak kelelawar dan ujung dari batu gua tersebut mengeluarkan tetesan air.

Daya pikat lainnya, di depan tebing terhampar pasir putih yang semakin menambah keindahan kawasan itu. Pengunjung yang bermalam biasanya menggelar tenda di depan tebing ini.

Sayangnya, kata Arimin, Pemerintah Kabupaten Konawe seperti tidak menaruh perhatian khusus terhadap wisata ini. Padahal diakuinya, Tebing Sawapudo berpotensi menghasilkan PAD bagi daerah.

Menurut Arimin, tim dari Kementerian Pariwisata bahkan sudah pernah ke lokasi Tebing Sawapudo untuk melihat potensinya pada 2017 silam. Namun, sampai sekarang tak ada yang terealisasi.

Tak tinggal diam, Pemerintah Desa Sawapudo terpaksa menggelontorkan dana desa untuk membangun sejumlah fasilitas di kawasan Tebing Sawapudo ini, seperti jalan lingkar, MCK, dan listrik di mana untuk menggunakannya pengunjung tinggal mengisi token.

“Hanya saja memang belum maksimal. Dana desa juga terbatas, ada peruntukkan yang lain juga. Intinya kami Pemerintah Desa Sawapudo masih butuh dukungan pemerintah untuk membangun kawasan wisata ini,” aku Arimin ditemui medio Mei 2024.

Akses ke Tebing Sawapudo

Mengenal Tebing Sawapudo, Wisata Climbing yang Cocok untuk Uji Adrenalin
Pemandangan dari atas, tampak Tebing Sawapudo.

Tebing Sawapudo menjadi lokasi climbing yang dekat dengan pusat Kota Kendari, ibu kota Sultra. Dari Kota Kendari jaraknya sekitar 28 km menuju ke arah utara, dan dapat diakses dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Ada dua pilihan untuk menjangkau lokasi tersebut. Pertama dari Kendari melewati jalur menuju Pantai Toronipa. Kedua, dari Kendari lewat jalur Pantai Batu Gong menuju Lalunggasumeeto.

Karena dekat dengan pusat kota, biaya yang dibutuhkan juga relatif terjangkau. Takdir, salah satu climber yang kerap memanjat di tebing ini menuturkan, ia biasanya hanya menghabiskan biaya Rp100 ribu saja untuk mengunjungi tebing ini jika menggunakan kendaraan roda dua. Biaya akan bertambah jika ia dan rekan-rekannya menginap.

“Hanya ongkos bahan bakar saja sama snack, kalau kami biasa ke sana menginap 1 atau 2 malam itu ada tambahan biaya, kita pasang tenda di depan tebing, tapi kalau hanya ke sana terus balik lagi, palingan Rp100 ribu untuk bensin dan snack,” terangnya, 5 Juni 2024.

Terkait Tebing Sawapudo, kata Takdir, tidak terlalu sulit untuk menaklukkan tebing yang memiliki kemiringan sekitar 70-80 derajat ini.

Menurutnya, kondisi Tebing Sawapudo masih terjangkau untuk pemula yang ingin belajar atau hanya sekadar ingin menelusuri gua di kawasan Tebing Sawapudo ini.

Tantangan untuk mencapai gua juga tidak terlalu sulit karena jarak dari tebing ke gua hanya memakan waktu kurang lebih lima menit dan sedikit menanjak.

Takdir sangat merekomendasikan Tebing Sawapudo ini untuk yang menyukai climbing. Ada banyak pilihan jalur yang bisa dipilih sesuai tingkat kesulitannya.

“Sebenarnya, medannya tidak terlalu sulit dan yang paling diutamakan di sana adalah kejelian dan kemampuan memasang pengaman serta pemilihan jalur yang tepat,” ujarnya.

Jelajah Gua

Mengenal Tebing Sawapudo, Wisata Climbing yang Cocok untuk Uji Adrenalin
Salah satu spot di objek wisata Tebing Sawapudo.

Jika berada di Tebing Sawapudo, maka tak lengkap tanpa menjelajah gua yang ada di kawasan ini.

Salah satu pemerhati karst dan penggiat alam di Sultra Iswandi mengungkapkan, karakteristik gua di seputaran kawasan Tebing Sawapudo merupakan gua vertikal dan horizontal.

Gua vertikal memiliki mulut gua yang tegak, sehingga penjelajah yang ingin masuk ke dalam gua memerlukan teknik dan alat bantu. Dalam ilmu speleologi (ilmu gua) teknik menuruni gua vertical disebut potling. Sedangkan gua horizontal memiliki mulut gua yang cenderung mendatar, sehingga bisa dijelajahi oleh pemula sekalipun.

Cywank, sapaan akrabnya menjelaskan, gua di Tebing Sawapudo juga dipenuhi beragam ornamen stalaktit dan stalagmit yang bisa dijumpai saat melakukan eksplorasi. Stalaktit dan stalagmit adalah batuan berbentuk kerucut yang menonjol di langit-langit dan lantai gua. Batuan-batuan tersebut membuat tampilan gua menjadi semakin menakjubkan.

“Kita juga bisa menemukan beberapa jenis binatang yang berdiam di dalam gua, antara lain kelelawar, jangkrik, kala cemeti, dan wallet,” terangnya.

Secara tingkat kesulitan, gua di kawasan Tebing Sawapudo masuk dalam kategori grade 3 atau sedang. Artinya saat mengeksplorasi gua sudah wajib menggunakan alat dan kemampuan ilmu tali temali yang khusus.

Ia melanjutkan menjelaskan, sensasi memanjat Tebing Sawapudo tergantung dengan tingkat kesulitannya. Saat ini pada dinding di Tebing Sawapudo itu sendiri terdapat lima jalur pemanjatan, mulai dari yang gampang sampai yang tersulit.

Mengenal Tebing Sawapudo, Wisata Climbing yang Cocok untuk Uji Adrenalin
Kegiatan camp edukasi tentang olahraga climbing yang pernah terlaksana di Tebing Sawapudo.

“Namun secara umum sensasi yang bisa dirasakan oleh pemanjat adalah penuh tantangan dan menegangkan,” ujarnya.

Yeni, salah satu pengunjung yang pernah mengunjungi kawasan Tebing Sawapudo mengakui gua di kawasan tebing ini memang masih alami. Kemungkinan karena jarang dikunjungi.

Ia bercerita pernah masuk ke dalam gua, namun tidak sampai ke dalam dan hanya bagian depan saja. Pasalnya, saat itu ia tidak bersama orang yang paham betul lokasi gua.

“Pas masuk ke dalam kita langsung disambut kawanan kelelawar,” ujarnya

Menurut Yeni, Tebing Sawapudo ini juga cocok untuk pemula karena dinding tebing merupakan bebatuan karts yang cukup kuat untuk menjadi tumpuan kaki memanjat ke atas. (—)

Reporter: Tim Redaksi
Editor: Jumriati

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI

  • Bagikan