23 July 2024
Indeks
Iklan Sultratop

Melihat Keindahan Pulau Kabaena dari Puncak Gunung Sabampolulu

  • Bagikan
Melihat Keindahan Pulau Kabaena dari Puncak Gunung Sabampolulu
Para pendaki di Gunung Sabampolulu.

SULTRATOP.COM – Gunung Sabampolulu terletak di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra). Ketinggian gunung ini mencapai 1.533 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dan puncaknya merupakan titik tertinggi di Pulau Kabaena.

Gunung Sabampolulu masuk ke dalam daftar salah satu gunung tertinggi di Sultra. Mitosnya, gunung ini merupakan asal muasal ditemukannya tari lumense yang kini menjadi tarian penyambutan khas Kabupaten Bombana.

Iklan Astra Honda Motor Sultratop

Seperti gunung-gunung lainnya di Sultra, pemandangan yang disuguhkan oleh Gunung Sabampolulu juga tak kalah menarik. Apalagi dari puncak gunung ini, kita bisa melihat keindahan Pulau Kabaena.

Tak hanya itu, berada di puncak Gunung Sabampolulu, mata akan dimanjakan oleh pemandangan Batu Sangia, gunung dengan dua batu besar bertengger di atasnya.

Batu Sangia terbentuk dari sedimentasi batu gamping. Gunung batu yang disebut-sebut mirip dengan Grand Canyon Amerika ini sudah menjadi ikon Pulau Kabaena. Ketika mengunjungi Pulau Kabaena, yang pertama kali terlihat oleh mata adalah puncak Batu Sangia.

Melihat Keindahan Pulau Kabaena dari Puncak Gunung Sabampolulu
Hamparan padang rumput di puncak Sabampolulu.

Banyak pendaki yang sudah menjelajahi puncak Gunung Sabampolulu. Tak hanya dari lokal saja, pendaki dari luar Sultra hingga turis asing pernah mendaki ke puncak gunung ini.

Cerita dari Pendaki Gunung

Afriandi Afdal, salah satu pendaki lokal yang pernah menjelajahi Gunung Sabampolulu mengatakan, untuk mencapai puncak Sabampolulu harus melewati delapan pos. Tiap pos memiliki tingkat kesulitan tersendiri.

Perjalanan ke puncak gunung ini dimulai dari Desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah. Dari Desa Tangkeno yang memiliki sebutan Negeri di Atas Awan ini, dibutuhkan waktu tempuh sekitar tiga jam untuk sampai ke pos empat.

Pos empat ini merupakan zona nge-camp bagi pendaki yang ingin bermalam, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak gunung keesokan harinya.

Melihat Keindahan Pulau Kabaena dari Puncak Gunung Sabampolulu
Pemandangan dari puncak Gunung Sabampolulu.

Sedangkan dari pos empat ke puncak atau pos delapan dibutuhkan waktu tempuh sekitar 6-7 jam.

β€œDari bawah (Desa Tangkeno) ke pos empat itu jalur pendakiannya mirip Puncak Ahuawali di Konawe, landai tidak, ekstrem juga tidak. Kemudian dari pos satu ke puncak itu semua jalan menanjak, kecuali pos lima yang merupakan lembah sehingga jalannya menurun dan kembali menanjak ke pos enam hingga sampai ke puncak,” terang Afriandi pada 12 Juni 2024.

Afriandi menyebut, dari bawah hingga ke pos empat jalur pendakian cenderung licin sehingga harus berhati-hati. Setelahnya sudah tidak terlalu licin, apalagi memasuki pos enam jalur pendakian sudah bebatuan karst.

Di pos lima terdapat sumber mata air yang bisa dimanfaatkan untuk membersihkan diri dan keperluan lainnya. Secara keseluruhan, kata Afriandi, Gunung Sabampolulu ini masih bisa didaki oleh pemula.

Menurut Afriandi, Gunung Sabampolulu ini wajib untuk dikunjungi sebab dari puncak gunung seluruh pemandangan Pulau Kabaena yang indah bisa terlihat dengan jelas.

Namun, salah satu kekurangan mendaki di gunung ini adalah tanda arah yang masih minim sehingga pendaki rawan tersesat.

Akses ke Pulau Kabaena

Secara administratif, Gunung Sabampolulu berada di Pulau Kabaena, tepatnya di perbatasan Kecamatan Kabaena dengan Kecamatan Kabaena Tengah. Pendakian ke puncak gunung ini umumnya dimulai dari Desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah.

Melihat Keindahan Pulau Kabaena dari Puncak Gunung Sabampolulu
Para pendaki di Gunung Sabampolulu.

Untuk mencapai Pulau Kabaena, akses satu-satunya adalah melalui jalur laut. Jika berangkat dari Kota Kendari atau daerah daratan lainnya di Sultra, akses darat hanya sampai di Kelurahan Kasipute, Kecamatan Rumbia.

Dari Kasipute, pengunjung harus naik kapal dari Pelabuhan Kasipute menuju Pelabuhan Sikeli, Kabaena. Pelabuhan Sikeli merupakan pintu gerbang kedua Pulau Kabaena setelah Pelabuhan Dongkala.

Pulau Kabaena juga dapat diakses langsung tanpa harus ke Kota Kendari, yakni lewat Kota Baubau yang aksesnya juga hanya lewat laut.

Ada dua pilihan moda transportasi laut yang bisa digunakan, yaitu kapal feri atau kapal cepat.

Mawan, warga lokal Desa Tangkeno menyebut, sampai saat ini tak ada pungutan biaya untuk mendaki ke Gunung Sabampolulu.

Alasan pemerintah desa tidak menarik retribusi karena memang kunjungan ke Gunung Sabampolulu tidak ada setiap hari.

Jika ingin mendaki, kata Mawan cukup meminta izin kepada kepala desa. Meski terlihat sepele, namun ini merupakan hal wajib. Jika diizinkan maka boleh mendaki.

Melihat Keindahan Pulau Kabaena dari Puncak Gunung Sabampolulu
Pemandangan dari puncak Gunung Sabampolulu, dapat terlihat keindahan Pulau Kabaena.

Saat meminta izin inilah, kepala desa biasanya mengimbau para pendaki untuk menjaga perkataan dan tindakan selama mendaki. Pendaki juga tidak disarankan untuk melewati atau membuat jalur baru karena rawan tersesat.

β€œDulu ada yang mendaki, mereka buat jalur baru akhirnya tersesat. Warga desa terpaksa naik ke atas membawa mereka turun,” aku Mawan.

Jika pendaki membutuhkan pemandu, warga lokal bersedia menemani. Begitu juga jika ingin menginap di DesaTangkeno, ada rumah warga yang bisa disewa.

Menurut Mawan, jika pendaki ingin langsung ke puncak maka harus berangkat pagi hari, namun jika ingin nge-camp di pos empat maka bisa berangkat siang hari.

Selama ini sudah ada turis asing dan mahasiswa dari kampus-kampus di Sulawesi dan Jawa yang mendaki gunung ini.

Mawan berharap pemerintah lebih mempromosikan Gunung Sabampolulu ini agar lebih dikenal luas lagi. Salah satunya memberi tanda pada rute pendakian agar para pendaki tidak tersesat, terutama para pendaki pemula.

Jika berkunjung ke Desa Tangkeno, tak hanya keindahan Gunung Sabampolulu yang bisa dinikmati. Desa wisata ini menawarkan banyak ragam eksotisme alam yang menggabungkan pegunungan, laut, dan pantai. (—)

Reporter: Tim Redaksi
Editor: Jumriati

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI

  • Bagikan