SULTRATOP.COM, KENDARI – Selama kurang lebih puluhan tahun warga Pulau Batu Atas, Kecamatan Batu Atas, Kabupaten Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak pernah merasakan layanan jaringan telekomunikasi yang memadai.
Pulau Batu Atas merupakan salah satu pulau terluar yang ada di Sultra dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Salah seorang guru SDN 1 Wacuala, Desa Batu Atas Barat, Hedirmanto (40) bercerita, sejak menjadi guru tahun 2010 layanan telekomunikasi di Batu Atas sangat terbatas. Setiap proses penginputan data sekolah mereka harus ke Kota Baubau menyeberangi lautan selama kurang lebih 7 sampai dengan 8 jam perjalanan menggunakan kapal kayu.
“Pulau Batu Atas ini terkenal dengan ombaknya yang tinggi mau musim apa saja barat atau timur kencang terus,” kata Hedirmanto kepada Sultratop.com, Kamis (28/8/2025).
Selain itu, untuk mendapatkan informasi perihal kebijakan dari dinas pendidikan setempat, mereka harus menunggu informasi dari kapal yang datang dari Baubau ke Batu Atas melalui surat yang dikirim dinas. Sehingga informasi yang mereka dapatkan selalu terlambat.
Atau pilihannya agar tidak terlambat mereka harus meninggalkan sekolah untuk ke Baubau menyelesaikan persoalan administrasi. Kata dia, kondisi tersebut menjadi penghambat proses belajar mengajar di sekolah. Sebab, guru-guru harus menghabiskan waktu 3 sampai 4 hari di Kota Baubau untuk menyelesaikan segala urusan sebelum kembali ke Batu Atas mengajar.
“Biasanya kita terhambat di pengisian data dapodik guru dan siswa dan itu sangat berpengaruh sekali untuk proses pendidikan di sini,” ujarnya.
Selain itu, sekolah tersebut kadang kesulitan untuk mendapatkan informasi update perubahan kurikulum ajaran baru. Akibatnya kurikulum yang diterapkan selalu terlambat. Dalam penerapan ujian nasional secara online, mereka masih menggunakan cara manual (offline).
Kemudian masalah lain, keterbatasan pengetahuan guru di sana akan teknologi juga menjadi penghambat dalam memahami silabus pendidikan yang terus berubah. Solusi lain untuk mendapatkan jaringan telekomunikasi mereka harus ke beberapa spot seperti di bukit dan pantai namun sangat terbatas.
Telkomsel Hadir di Pulau Batu Atas
Manager Network Operations and Productivity Telkomsel Kendari Habibi M. Tau mengatakan, Telkomsel terus berkomitmen untuk memberikan layanan terbaiknya kepada seluruh lapisan masyarakat di mana pun lokasinya. Telkomsel bekerja sama dengan pemerintah membangun infrastruktur telekomunikasi hingga daerah terpencil dan terluar Indonesia.
Sebanyak 91 site 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) telah dibangun Telkomsel di sejumlah daerah terpencil di Sultra, termasuk di Pulau Batu Atas sebagai pulau terluar Sultra. Jaringan di pulau ini on air pada Mei 2025 dan melayani 465 KK atau sekitar 2.036 jiwa.
Ia menjelaskan tantangan menghadirkan jaringan di pulau terluar di Sultra yakni listrik. Sebagian besar daerah 3T listriknya belum 24 jam sehingga source power menggunakan solar cell yang sangat tergantung oleh cuaca atau genset yang biayanya sangat besar.
Kedua, geografis, lokasi di lembah, gunung, laut sehingga membutuhkan perangkat transport khusus agar bisa terkoneksi ke controller terdekat. Area 3T koneksinya pake VSAT. Ketiga, operasional. Karena jarak yang sangat jauh membutuhkan akses lama untuk melakukan maintenance atau perbaikan jika terjadi gangguan sehingga impact kepada layanan ke pelanggan.
Sejumlah Guru Lulus PPG (Sertifikasi Guru)
Hedirmanto mengungkapkan sebelum adanya jaringan internet yang memadai, dalam proses menjalani Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau yang dikenal dengan sertifikasi guru mereka sangat kesulitan mendapatkan informasi untuk kenaikan pangkat serta jurnal-jurnal pembelajarannya.
Solusinya hanya satu mereka harus menyeberang ke Kota Baubau dengan kurun waktu 3 sampai 4 bulan. Namun kesabaran mereka berbuah manis pada 2025 ini, Hedirmanto menjadi salah satu guru berstatus PNS lolos dalam PPG dan mendapatkan sertifikasi guru.
PPG sendiri merupakan program pendidikan tinggi setelah lulus sarjana, dirancang untuk melahirkan guru profesional yang berkompeten dan memiliki sertifikat pendidik. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas guru, mencetak guru yang profesional dan berintegritas, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan pendidikan modern.
“Saya sangat merasa terbantu, bahkan kami semua yang sudah lulus PPG di Batu Atas sangat terbantu adanya jaringan Telkomsel di sini. Ini yang membuat kami mudah mendapatkan informasi melalui handphone kami, sehingga proses pendidikan juga berjalan lancar,” kata Hedrimanto dengan nada yang begitu lantang.
Setiap guru saat ini dengan mudah mendapatkan silabus pendidikan dan update kurikulum untuk bahan pembelajaran di sekolah. Jaringan internet dari Telkomsel yang melayani 24 jam membuat mereka semakin semangat mengajar dan tidak perlu membuang tenaga dan biaya untuk ke Baubau.
Ia berharap ke depan, layanan jaringan Telkomsel semakin kuat di Pulau Batu Atas dan ia juga memberikan apresiasi untuk Telkomsel yang sudah menghadirkan jaringan telekomunikasi memadai yang tidak pernah mereka rasakan selama puluhan tahun.
Habibi M. Tau menambahkan, harapan dan upaya ke depan Telkomsel agar coverage daerah 3T bisa maksimal yakni kolaborasi sejumlah pihak, menurutnya untuk melayani seluruh daerah-daerah terpencil tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada operator selular, semua stakeholder harus ambil bagian.
Misalnya, pemerintah bisa membantu dengan membangun tower, PLN bisa menghadirkan layanan listrik 24 jam dan Telkom bisa memberikan layanan jaringan dengan perangkat transmisi yang handal.
“Kolaborasi sangat penting untuk menghadirkan layanan telekomunikasi yang andal bagi masyarakat di wilayah 3T,” ungkapnya. (—)
Penulis: Ilham Surahmin