23 July 2024
Indeks
Iklan Sultratop

Berkelana di Padang Savana Rawa Aopa

  • Bagikan
Rusa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

SULTRATOP.COM – Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) merupakan salah satu kawasan yang paling unik di Indonesia karena terdiri dari empat ekosistem berbeda. Ada rawa, mangrove, savana, dan hutan pegunungan dataran rendah, menjadikan TNRAW kawasan dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.

Padang savana menjadi salah satu yang paling menarik. Savana di TNRAW menjadi habitat berbagai satwa liar. Bagi anda yang ingin merasakan sensasi berkelana di hamparan padang rumput yang luas, ini adalah tempatnya.

Iklan Astra Honda Motor Sultratop

Ekosistem savana itu membentang dari batas akhir zonasi hutan bakau di sisi timur TNRAW hingga gunung Watumohai dan Mendoke yang terletak di sisi barat.

Padang savana di taman nasional ini memiliki luas kurang lebih 20 ribu hektare yang membentang luas sejauh mata memandang seperti permadani hijau. Di dalamnya terdapat belasan ribu ekor rusa, yang jika beruntung Anda dapat menyaksikannya. Namun Anda harus hati-hati karena kadang mereka menyerang siapa saja yang lewat di kawasannya.

Rerumputan (sebagian besar alang-alang) yang menghampar luas jadi makanan favorit bagi rusa. Ekosistem savana juga didukung beberapa aliran sungai sebagai tempat minum para rusa.

Berdasarkan penjelajahan awak media Sultratop.com tiga tahun lalu, di Padang Savana tersebut telah dibuka pusat konservasi rusa dan anoa yang dapat dikunjungi wisatawan.

Pengunjung dapat melihat secara langsung satwa tersebut melalui kawasan konservasi. Kawasan ini disediakan spot pengamatan bagi pengujung. Sehingga, bisa menikmati keindahan kawasan taman nasional.

Sebelum pengunjung memasuki kawasan konservasi diwajibkan untuk melapor ke petugas wisata yang berada di pusat informasi. Hal itu demi keamanan dan dapat didampingi oleh petugas dari Balai TNRAW.

Padang savana yang jadi pusat konservasi rusa dan anoa.

Selain rusa, savana Rawa Aopa juga jadi rumah berbagai jenis burung. Ini tercatat dalam penelitian Indra dari Balai Penelitian Kehutanan Makassar dengan judul “Savana Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai: Habitat Penting Burung Lahan Basah Dan Burung Darat”.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa savana TNRAW merupakan habitat penting bagi burung, khususnya habitat bagi jenis‐jenis burung endemik, langka dan dilindungi yang keberadaannya di alam tergolong kritis.

Selama penelitian, di areal savana Lanowulu‐Langkowala hingga savana Huakea‐Laea, dapat dijumpai 77 jenis burung. Salah satunya habitat bagi kakaktua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), yang telah digolongkan sebagai critically endangered (terancam punah).

Masih berdasarkan penelitian tersebut, salah satu yang menyebabkan keanekaragaman hayati burung di areal savana tergolong tinggi adalah tergenangnya sebagian areal savana dengan air selama musim hujan dan bahkan di beberapa tempat masih tetap tergenang selama beberapa waktu pada awal musim kemarau.

Keragaman Flora dan Fauna

Secara administratif, taman nasional ini masuk ke dalam wilayah empat kabupaten di Sulawesi Tenggara (Sultra), yakni Kabupaten Konawe, Konawe Selatan (Konsel), Kolaka Timur (Koltim), dan Bombana. Total luas TNRAW sekitar 105.194 hektare.

TNRAW memiliki ekosistem yang beragam sehingga menawarkan sederet objek wisata yang pesonanya dijamin bakal memanjakan mata.

Topografi di TNRAW cukup bervariasi mulai dari datar, bergelombang, sampai dengan berbukit-bukit. Topografi inilah yang membentuk bentangan alam TNRAW menjadi begitu memesona.

Tak hanya keindahan alamnya, keragaman flora dan fauna di TNRAW juga menjadi daya tarik tersendiri.

Tercatat ada sekitar 317 jenis satwa yang mendiami TNRAW. Hewan langka seperti anoa, babi rusa, buaya muara, rusa, musang sulawesi dan beberapa jenis primata seperti tersius dan monyet hitam juga terdapat di kawasan ini.

Di dalam kawasan TNRAW juga tercatat ada 501 jenis tumbuhan dari 110 famili, di antaranya anggrek dan teratai.

Keragaman flora dan fauna itulah yang menjadikan TNRAW tak hanya tempat ideal untuk berwisata, tapi juga sebagai sarana edukasi dan penelitian tentang konservasi satwa liar dan tumbuhan.

Kepala Balai TNRAW Ahmad mengatakan, secara umum kawasan taman nasional terbagi menjadi beberapa zona. Pertama zona inti yang sangat sensitif dan tidak diperbolehkan ada kegiatan lain. Kemudian zona pemanfaatan yang dapat dimanfaatkan menjadi kawasan komersil.

Selanjutnya zona rimba yaitu ruang khusus publik, namun tidak dijadikan sebagai ruang komersil sehingga di zona ini tidak dapat dihadirkan fasilitas seperti di tempat wisata yang lain.

Berikutnya zona tradisional yang digunakan untuk pemanfaatan tradisional seperti budi daya kepiting di kawasan mangrove. Kemudian ada zona rehabilitasi untuk merehabilitasi kawasan rusak, dan terakhir zona khusus yakni jalan poros yang menghubungkan Konawe Selatan (Konsel) dan Bombana.

“TNRAW juga dibagi dengan sistem zonasi berdasarkan tujuannya, yaitu untuk penelitian dan ilmu pengetahuan, pendidikan, budi daya, pariwisata, dan rekreasi alam,” terang Ahmad ditemui 24 Juni 2024.

Ragam Destinasi Alam

Menurut Ahmad, daya tarik berwisata di TNRAW tentu terletak pada pilihan wisatanya yang beragam. Mulai dari wisata rawa, wisata mangrove, wisata sabana hingga wisata gunung.

Salah satu spot wisata yang wajib dikunjungi di kawasan TNRAW adalah Bukit Modus. Keindahan objek wisata yang disebut-sebut sebagai zona rimba dari TNRAW ini tak perlu diragukan lagi.

Secara administratif, Bukit Modus masuk dalam wilayah Kabupaten Bombana, tepatnya di Desa Watu-watu, Kecamatan Lantari Jaya.

Nama Modus sendiri berasal dari kata Moronene Dusun. Sebab wilayah ini didiami oleh masyarakat asli Moronene yang tinggal di kawasan Desa Adat Hukae.

Luas kawasan Bukit Modus sekitar 104 hektare, terdiri dari bukit, kawasan hutan tempat hidup sejumlah fauna endemik Sultra seperti maleo, rangkok, dan kakaktua kecil jambul kuning.

Puncak bukit yang memiliki ketinggian 180 – 250 meter dari atas permukaan laut (mdpl) ini menjadi tempat favorit pengunjung untuk mendirikan tenda karena dari atas puncak dapat melihat bentang alam Bukit Modus dan laut.

Bukit Modus di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Kata Ahmad, pengunjung yang ingin ke Bukit Modus dapat melapor kepada petugas TNRAW terlebih dahulu agar pengunjung tidak melakukan tindakan yang mengancam kawasan taman nasional.

Dengan didampingi petugas, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan Bukit Modus, tetapi juga mendapat ilmu pengetahuan.

Sri Rahayu, salah satu wisatawan yang pernah menjelajahi kawasan Bukit Modus ini menceritakan pengalamannya ketika pertama kali berkunjung.

Perjalanan ke objek wisata ini dimulai dari gerbang pertama taman nasional di Desa Tatangge, Kecamatan Tinanggea, Konsel menuju gerbang kedua sekitar 24 km yang sudah masuk wilayah Kabupaten Bombana.

Di sepanjang jalan yang masuk dalam zona khusus taman nasional, tampak hamparan sabana dan hutan di sisi kiri dan kanan yang begitu indah. Apalagi waktu itu Sri Rahayu bersama teman-temannya membelah jalan menggunakan motor trail.

Acing menyarankan untuk masuk ke Bukit Modus sebaiknya menjelang sore hari karena saat cuaca cerah, sunset di kawasan Bukit Modus ini sangat indah.

Setelah melewati kawasan savana, saatnya memasuki blok Pampaea yang memiliki sungai dengan aliran air cukup deras. Perjalanan kurang lebih 2 jam (jika kondisi jalan kering) dengan jarak tempuh sekitar 13 km, dari jalur zona khusus ke Bukit Modus.

Memasuki kawasan Bukit Modus, bentang bukit dengan tekstur tanah bebatuan mulai memanjakan mata. Uniknya, bukit ini tidak ditumbuhi oleh ilalang melainkan rerumputan, sehingga tidak mengganggu para pengunjung yang melewati kawasan tersebut.

Spot wisata berikutnya yang juga menjadi primadona adalah Rawa Aopa. Rawa seluas 11.488 hektare ini merupakan habitat berbagai satwa liar dan tumbuhan.

Secara umum, Rawa Aopa menawarkan keindahan yang sangat khas. Sangat cocok bagi Anda yang menyukai traveling sekaligus pencinta fotografi dan birdwatching.

Di tengah-tengah Rawa Aopa, terdapat pulau yang oleh penduduk setempat dinamai Pulau Harapan II. Di sini kita bisa menikmati keindahan panorama alam rawa dengan pemandangan burung-burung air yang sedang mengintai ikan. Kita juga bisa mendengarkan kicauan burung serta menyaksikan indahnya sunset.

Di TNRAW juga terdapat objek wisata Muara Lanowulu. Wisatawan dapat berenang atau melakukan kegiatan wisata bahari, seperti berlayar dan memancing. Di sini, pandangan Anda akan dimanjakan oleh hutan mangrove.

Jika tak ingin berwisata air, kawasan Gunung Watumohai bisa jadi pilihan lain. Para wisatawan dapat melakukan kegiatan pendakian dan berkemah.

Di lereng gunung tersebut, terdapat padang sabana untuk tempat berkemah sembari melihat ratusan ekor rusa yang sedang merumput. Landscape padang sabana di TNRAW sangat mengagumkan dan memanjakan mata.

Tak hanya itu saja, masih banyak spot wisata lainnya yang bisa jadi pilihan saat berwisata di TNRAW. Sebut saja Bukit Awan, Ahuawali, Hutan Pendidikan, Air Terjun Pinanggoosi, Taparang, hingga kawasan penangkaran rusa.

Akses ke TNRAW

Jika ingin melihat keindahan pemandangan di TNRAW maka terlebih dahulu harus mendapatkan izin masuk. Anda harus datang ke Balai TNRAW yang terletak di Jalan Poros Bombana No. 157 Lanowulu, Kecamatan Tinanggea, Konawe Selatan, atau Kantor Perwakilan Jalan Bunga Kana No. 6 Kelurahan Watu-watu Kecamatan Kendari Barat, atau melalui media sosial resmi TNRAW.

Perjalanan menuju TNRAW dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Ada tiga jalur yang bisa dilalui jika perjalanan dimulai dari Kota Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Namun, yang paling mudah dan tidak terlalu memakan waktu lama adalah rute dari Kendari ke Tinanggea lalu ke Lanowolu. Waktu tempuh sekitar 2 sampai 3 jam.

Menurut Ahmad, saat ini pihaknya menyiapkan konsep wisata terintegrasi dalam kawasan taman nasional untuk para pengunjung yang tertarik dengan wisata minat khusus.

Konsep wisata terintegrasi ini adalah mengintegrasikan potensi antara wisata alam, pendidikan, dan budaya dalam satu wilayah pengelolaan pariwisata di kawasan taman nasional. Kata dia, TNRAW memiliki ketiga potensi tersebut, sehingga baik untuk dijalankan dengan konsep demikian.

Untuk wisata alam, TNRAW memiliki banyak spot wisata di antaranya padang sabana, Bukit Modus, air terjun, permandian alam, Pulau Harapan, dan kawasan hutan mangrove.

Wisata edukasi, Balai TNRAW menyiapkan kawasan konservasi rusa yang diresmikan pada 2022. Kemudian, adapula Hutan Pendidikan Tatangge yang menjadi pusat kegiatan penelitian yang dilakukan oleh akademisi.

Untuk wisata budaya, di dalam kawasan TNRAW ada masyarakat nelayan yang bermukim di Muara Lanowulu. Semua kegiatan masyarakat di dalam dilakukan secara tradisional tanpa mengganggu kawasan taman nasional. (—-)

 

Reporter: Tim Redaksi
Editor: Jumriati

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI

  • Bagikan